Pertamina Industrial Salurkan 606.308 KL Solar Nonsubsidi ke Segmen VVIP

Suparjo Ramalan ยท Kamis, 08 April 2021 - 20:04:00 WIB
Pertamina Industrial Salurkan 606.308 KL Solar Nonsubsidi ke Segmen VVIP
PT Pertamina Industrial & Marine Fuel melayani penjualan solar secara business to business (B to B) terhadap tujuh segmen konsumen. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - PT Pertamina Industrial & Marine Fuel melayani penjualan solar secara business to business (B to B) terhadap tujuh segmen konsumen, mulai dari VVIP yang wajib dilayani dengan segera, hingga konsumen Subsidiary. Waljiyanto mengatakan, porsi penyaluran BBM solar yang ditangani oleh institusinya mayoritas berupa solar nonsubsidi, yaitu mencapai 95 persen dari total solar yang disalurkan untuk industri dan pelayaran. 

"Oleh karena bisnis B to B ini sangat kompleks dan size nya sangat besar, maka kami memilah-milah segmen kami berdasarkan perilaku. Karena tiap segmen mempunyai perilaku sendiri-sendiri, sehingga kami harus mengetahui dengan pasti keinginan para konsumen kami yang paling mendasar itu apa," ujar Waljiyanto, Kamis (8/4/2021). 

Untuk segmen pertama, yaitu VVIP, pada 2020 lalu disalurkan solar dengan kapasitas 606.308 kiloliter (KL). Segmen VVIP tersebut terdiri dari TNI, Polri, KPLP, PSDKP, SAR, Bea Cukai dan pilar-pilar ketahanan negara yang termasuk penting dalam kehidupan sehari-hari. 

"Konsumen dengan tipe karakter VVIP ini harus dilayani dengan cepat dan segera," tuturnya. 

Segmen selanjutnya yaitu segmen konsumen strategis. Tercatat pada 2020 lalu berhasil disalurkan solar sejumlah 2.973.173 kl. Kemudian segmen bisnis, dengan penyaluran 3.896.108 kl. 

"Segmen strategis itu penting, di bawah VVIP karena merupakan konsumen prioritas yang harus dilayani segera, yaitu PELNI, KAI, PLN, Pelindo, ASDP," katanya. 

"Untuk segmen bisnis, yang termasuk didalamnya adalah KKKS, Marine dan industri-industri lainnya," ujarnya. 

Kemudian segmen konsumen lainnya yaitu Small Medium Enterprise (SME), Agen BBM, INU dan Subsidiary, dengan masing-masing jumlah penyalurannya di 2020 mencapai 463.555 kl, 1.839.571 kl, 1.453.572 kl dan 2.387.149 kl. "Subsidiary adalah sebelum adanya holding-holding, kami melayani untuk Patra Niaga, Pertamina Petrofin, PT Pertamina Lubricant, PT Elnusa, PT Pertamina Retail dan anak usaha yang membutuhkan," ucapnya.

Sementara itu, Politisi Partai Hanura, Inas N Zubir menyarankan kepada Pemerintah agar benar-benar menghentikan impor solar. Pasalnya, kegiatan tersebut mampu dimainkan oleh pihak swasta.

Dia menduga, celah impor inilah yang dilakukan oleh oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan pribadi. “Sebenarnya, kalau mau melarang (impor) langsung terbitkan saja suratnya, jangan dalam bentuk himbauan atau surat edaran. Larangan itu musti tegas, misalnya Keputusan Menteri ESDM yang melarang impor solar. Saya menilai impor solar ini tidak serius,” katanya.

Mantan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI ini juga merasa heran dan aneh, karena harga solar swasta yang didapatkan dari hasil impor dengan beban biaya pajak hingga distribusi dan lain-lain justru lebih murah dari harga jual solar produksi Pertamina alias produk lokal. Padahal, kata dia, solar impor itu juga terkena beban biaya distribusi, landed cost, PPN, PPh dan PBBKB.

Dengan begitu harga jual solar tersebut seharusnya Rp10.825 per liter. Ironisnya, di lapangan justru dijual dengan harga Rp7.650 per liter. 

"Ini tidak masuk akal dan aneh. Harga yang seharusnya Rp10.825 per liter,  tapi saya baru lihat di Tokopedia, kok bisa dijual dengan harga hanya Rp7.650 per liter. Saya lihat di Bukalapak ada yang jual Rp8.000. Ini gila. Karena dengan biaya-biaya yang ada itu bisa menjual dengan harga Rp 7.650 per liter," ujarnya.

Editor : Ranto Rajagukguk