Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Apple Lagi-Lagi Kalah di Pengadilan Kasus Epic Games
Advertisement . Scroll to see content

Regulator Antimonopoli China Blokir Rencana Merger Platform Games Online Huya dan Douyu

Senin, 12 Juli 2021 - 08:19:00 WIB
Regulator Antimonopoli China Blokir Rencana Merger Platform Games Online Huya dan Douyu
Tencent Holdings Ltd, perusahaan teknologi asal China. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

BEIJING, iNews.id - Regulator antimonopoli China memblokir rencana merger dua platform video games online Huya dan Douyu yang dimiliki Tencent Holdings Ltd (tencent). 

Tencent mengumumkan kesepakatan merger dua platform video game live terbesar di China, Huya dan Douyu, pada Oktober 2020 untuk menciptakan raksasa video games online senilai 5,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dengan hampir 300 juta pengguna seluler aktif bulanan.

Namun The State Administration for Market Regulation (SAMR) menyatakan kesepakatan itu akan memperkuat posisi dominan Tencent, yang memegang saham mayoritas di kedua perusahaan, karena telah menguasai 40 persen operasi game online.

"Merger tersebut mungkin memiliki efek mengecualikan atau membatasi persaingan, yang tidak kondusif untuk persaingan yang sehat dan dapat merusak kepentingan konsumen,” kata SAMR dalam pernyataannya, Sabtu (10/7/2021).

Menurut SAMR, sebagai dua pemain terbesar di sektor ini, Huya dan Douyu masing-masing telah menyumbang 40 persen dan 30 persen dari penjualan, serta 45 persen dan 35 persen dari pengguna aktif. 

Tencent yang berbasis di Shenzhen, memegang 43 persen pangsa pasar video game China pada 2020. Perusahaan teknologi tersebut  memiliki 37 persen saham di Huya dan 38 persen Douyu. Tencent diperkirakan akan memiliki sekitar 67 persen saham di perusahaan yang dimerger.

Dalam pernyataannya, SAMR mengungkapkan telah meninjau usulan merger Huya dan Douyu sejak Januari 2021, dan telah meminta pendapat dari lembaga pemerintah terkait, pakar, dan pesaing di industri. 

"Kami juga berkomunikasi dengan Tencent selama peninjauan, dan meskipun perusahaan mengajukan proposal merger yang direvisi, hal itu dinilai gagal untuk mengurangi dampak negatif pada persaingan pasar," bunyi pernyataan SAMR. 

Menanggapi keputusan tersebut, manajemen Tencent menyatakan akan mematuhi keputusan SAMR, serta beroperasi sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, dan memenuhi tanggung jawab sosial perseroan. 

Manajemen Huya juga menyampaikan pernyataan senada. Sedangkan manajemen Douyu menyatakan sepenuhnya menghormati keputusan hukum dari SAMR dan akan bekerja sama sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Penggabungan Huya dan Douyu yang dibatalkan SAMR adalah pukulan terbaru bagi sektor teknologi China karena regulator meningkatkan pengawasan mereka terhadap perilaku monopoli

"Hal itu, sekaligus mengirimkan sinyal yang jelas bahwa regulator antimonopoli China tidak akan mengizinkan perilaku monopoli," kata kata Zhang Chenying, penasihat komite antimonopoli China dan seorang profesor hukum di Universitas Tsinghua.

Sebelumnya, SAMR telah memukul Alibaba Group Holding, pemilik South China Morning Post, dengan rekor denda 18,2 miliar yuan atau sekitar 2,8 miliar dolar AS pada April 2021 karena melanggar undang-undang anti-monopoli negara itu.

SAMR menjatuhkan denda kepada Alibaba setelah melakukan penyelidikan terhadap raksasa layanan pengiriman itu, sesuai permintaan China Meituan dan broker perumahan online KE Holdings.

Dibandingkan dengan Alibaba, Tencent dihukum dengan denda yang relatif kecil karena gagal mengungkapkan kesepakatan merger dan akuisisi kepada pihak berwenang.

Perusahaan yang terdaftar di Hong Kong itu sudah memiliki saham di pengembang yang berbasis di AS, Riot Games, Epic Games dan Activision Blizzard, serta perusahaan Korea Selatan Krafton dan perusahaan Jepang Marvelous. Pada 2016, Tencent menghabiskan 8,6 miliar dolar AS untuk mengambil alih pengembang game seluler Finlandia, Supercell.

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut