RI Gandeng Korsel Ubah Anjungan Migas Jadi Terumbu Buatan
Pekerjaan decommissioning ini akan digarap bersama dengan pemerintah Korsel. Kementerian ESDM juga telah menerbitkan Persetujuan Pelaksanaan Kegiatan Pasca Operasi dan Penghapusan Asset BMN.
Sebelumnya pada 13 Oktober 2021, Pemerintah Indonesia dan Korea memperkuat Kerja Sama Maritim di Bidang Industri Jasa Anjungan Lepas Pantai. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan dengan Menteri Samudera dan Perikanan Republik Korea Moon Seong-Hyeok.
"Platform lepas pantai yang tidak terpakai akan digunakan untuk artificial coral reefs, akuakultur, wisata laut dan pusat penelitian," kata Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan kala itu.
Decommissioning anjungan migas adalah rangkaian kegiatan pembongkaran peralatan, instalasi, dan/atau fasilitas penunjang termasuk penutupan sumur secara permanen, pemulihan lokasi dan penanganan pelepasan atau penghapusan peralatan, instalasi, dan/atau fasilitas dalam kegiatan usaha hulu migas yang dilaksanakan sebelum atau pada saat berakhirnya kontrak kerja sama.
Dasar hukum pembongkaran platform migas adalah Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1974 tentang Pengawasan Pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi Migas di daerah Lepas Pantai pasal 21 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2018 tentang Kegiatan Pasca Operasi Pada Kegiatan Usaha Hulu Migas Pasal 2 dan Pasal 10.
Pasal 2 menyatakan, KKKS wajib melakukan kegiatan pasca operasi yang pelaksanaannya menggunakan dana kegiatan pasca operasi. Sementara Pasal 10 menyatakan, dalam melaksanakan kegiatan pasca operasi, KKKS wajib menggunakan Standar Nasional Indonesia dan/atau standar internasional yang berlaku sesuai dengan rencana kegiatan pasca operasi yang telah disetujui.
Editor: Jujuk Ernawati