Tembus Pasar Ekspor ke Eropa, PTPN V Kantongi Keuntungan Rp103 Miliar

Nanda Tanjung ยท Kamis, 25 November 2021 - 17:51:00 WIB
Tembus Pasar Ekspor ke Eropa, PTPN V Kantongi Keuntungan Rp103 Miliar
Ilustrasi CPO. (Foto: dok iNews)

PEKANBARU, iNews.id - PT Perkebunan Nusantara V (persero) atau PTPN V mengantongi keuntungan sebesar Rp103 miliar sejak 2019 hingga September 2021. Keuntungan tersebut, diperoleh seiring ekspor CPO perseroan yang menembus pasar eropa

Menurut Chief Executive Officer PTPN V, Jatmiko K Santosa, perseroan telah mengaplikasikan standar sawit berkelanjutan berupa Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO), dan sertifikasi standar karbon internasional atau International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) untuk menembus pasar eropa.

"Kami berkomitmen untuk terus menekan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari seluruh rangkaian kegiatan produksi perkebunan sawit. Sertifikasi ISCC dan RSPO ini menunjukkan bahwa produk yang kami hasilkan telah memenuhi standar energi terbarukan Uni Eropa (UE Renewable Energy Directive), serta komitmen kami sebagai produsen CPO yang bertanggung jawab terhadap lingkungan," kata Jatmiko, di Jakarta Kamis (25/11/2021).

Anak usaha Holding Perkebunan Nusantara tersebut merupakan perusahaan perkebunan milik negara pertama yang mengantongi sertifikasi standar Eropa ISCC, sejak 2018 silam. Saat ini, 70 persen unit pabrik kelapa sawit (PKS) dan kebun PTPN V telah mengantongi ISCC, dan 75 persen diantaranya telah mengantongi RSPO.

"Baik ISCC dan RSPO memberikan keuntungan berupa harga premium untuk produk PTPN V. Sejak 2019 hingga September 2021 kemarin, perusahaan mendapat keuntungan harga premium mencapai Rp106,03 miliar," kata Jatmiko. 

Saat ini delapan dari 12 PKS (Pabrik Kelapa Sawit) serta 10 unit kebun PTPN V telah mengantongi sertifikasi ISCC. Diantaranya adalah Tandun, Rokan, Lubuk Dalam, Terantam, Tanjung Medan, Sungai Pagar, Intan, dan Tapung. 

Sementara, empat PKS dan unit kebun lainnya diperkirakan akan mengantongi sertifikasi yang mampu memberikan kontribusi tambahan harga USD10 hingga USD15 per ton CPO tersebut pada 2023 mendatang. 

"Tahun depan kita akan kembali melakukan proses sertifikasi. Insya Allah 2023 seluruhnya rampung dan 100 persen tersertifikasi ISCC, ujar Jatmiko. 

Menurut dia, langkah untuk mendapatkan ISCC diharapkan lebih mudah menyusul pembangunan empat pembangkit tenaga biogas (PTBg) Cofiring di empat PKSPTPN V direncanakan rampung hingga 2021 ini. Keberadaan empat PTBg tersebut akan melengkapi dua pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) yang telah berdiri sebelumnya. 

Ia menjelaskan untuk meraih sertifikasi ISCC harus memenuhi sejumlah kriteria. Paling utama adalah kadar gas rumah kaca (GRK) yang harus berada di bawah ambang batas 1.000 CO2Eq. "Dengan adanya PTBg maka pabrik PTPN V terbantu karena gas metan yang dilepaskan ke udara dimanfaatkan menjadi sumber energi," tutur Jatmiko. 

Untuk itu PTPN V Riau mendorong sekaligus memberikan asistensi kepada ratusan petani yang tergabung dalam tiga koperasi mitra binaan untuk memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) serta Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).  

Jatmiko K Santosa, mengatakan melalui program sertifikasi tersebut, para petani dan perusahaan akan memperoleh keuntungan. Baik dari sisi produktivitas maupun penjualan atas produk sawit melalui penerapan praktik budidaya perkebunan berkelanjutan atau sustainable. 

"Ini merupakan langkah awal kita untuk mencapai tujuan lebih luas dalam merangkul dan meningkatkan ekonomi para petani mitra binaan PTPN V," ungkap Jatmiko. 

Ia mengatakan untuk tahap awal terdapat tiga koperasi unit desa (KUD) berlokasi di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau yang mengikuti program sertifikasi ISPO dan RSPO. Ketiganya adalah KUD Karya Mukti di lahan seluas 874 hektare, Dayo Mukti di lahan seluas 706 hektare, dan KUD Tani Sejahtera dengan lahan seluas 856 hektare. 

Ketiga KUD yang telah memasuki penanaman generasi kedua dengan usia tanaman sembilan tahun dan masuk dalam kategori tanaman produktif tersebut akan menjadi mitra binaan perdana PTPN V yang melaksanakan sertifikasi ISPO dan RSPO. 

"Total luas lahan petani mitra yang menjalani sertifikasi RSPO dan ISPO perdana tahun ini mencapai 2.436 hektare," ujar Jatmiko.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: