Terdampak Kebijakan Moneter Global, Menkeu: Risiko Pasar Keuangan Indonesia Meningkat

Anggie Ariesta ยท Kamis, 23 Juni 2022 - 18:18:00 WIB
 Terdampak Kebijakan Moneter Global, Menkeu: Risiko Pasar Keuangan Indonesia Meningkat
Ilustrasi rupiah dan dolar. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Risiko pasar keuangan Indonesia meningkat akibat dampak kebijakan moneter global yang semakin ketat dipengaruhi oleh lonjakan inflasi.

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, pasar keuangan Indonesia terdampak normalisasi kebijakan moneter global. Hal itu, sudah terlihat menjelang pengumuman FOMC Meeting Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) pada 15 Juni 2022. 

Sri Mulyani menyebut isu terkait inflasi dan pengetatan kebijakan moneter akan menimbulkan gejolak yang cukup tinggi di pasar keuangan. Situasi ini dikhawatirkan mempengaruhi nilai tukar rupiah.

"Kita harus mewaspadai karena sekarang risiko bergeser dengan adanya inflasi, kenaikan suku bunga dan likuiditas, maka risiko di sektor keuangan menjadi meningkat," kata Sri Mulyani, dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (23/6/2022).

Dia menjelaskan, nilai tukar rupiah memang mengalami depresiasi dalam beberapa waktu terakhir. Namun, depresiasinya jauh lebih baik dibandingkan negara-negara setara alias peers.

"Filipina 6,4 persen, India 5 persen, Malaysia 5,5 persen, Thailand 6,3 persen, Turki outliers 30 persen mereka mengalami penurunan local currency. Ini akan menjadi tren yang harus diwaspadai, monetary policy akan cenderung makin ketat," ungkap Sri Mulyani.

Saat ini, lanjutnya, suku bunga AS mulai meningkat dan membuat para investor menempatkan dananya di aset yang lebih aman. Dengan demikian, terjadi capital outflow atau arus modal keluar sebesar Rp36,6 triliun.

Menkeu mengungkapkan, komposisi aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik berasal dari pemegang surat utang. Hal ini tentu akan berdampak langsung terhadap nilai tukar rupiah.

"Yield surat berharga local currency untuk 10 tahun di level 7,7 persen. Kalau dibandingkan yield US Treasury 10 tahun ini naik drastis, namun trennya ke atas," ujar Sri Mulyani.

Untuk Indonesia, bond 10 tahun kenaikan yield 17,4 persen dan kalau dibandingkan negara lain relatif baik karena negara lain koreksi yield dari year to date mereka.

"Indonesia 17,4 persen sejak awal tahun hingga hari ini, Meksiko 22 persen, Filipina 24 persen, namun Amerika yield 10 tahun melonjak 116 persen," tutur Sri Mulyani.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: