Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Perkuat Mesin Politik Lewat Workshop Bedah Dapil, Perindo Banten Sasar Gen Z Lewat Ekosistem UMKM
Advertisement . Scroll to see content

UMKM yang Ikuti Selera Gen Z Dijamin Laris? Ini Faktanya!

Minggu, 04 Oktober 2026 - 10:20:00 WIB
UMKM yang Ikuti Selera Gen Z Dijamin Laris? Ini Faktanya!
Bisnis UMKM diminta ikuti tren gen Z. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Mengikuti selera Gen Z menjadi tantangan baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kelompok konsumen muda ini tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga semakin memperhatikan jenis produk, gaya hidup, hingga nilai yang ditawarkan sebuah merek.

Produk lokal, makanan sehat, serta fashion olahraga menjadi sejumlah kategori yang dinilai memiliki daya tarik di kalangan Gen Z. Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau pasar anak muda.

Namun, apakah mengikuti tren Gen Z otomatis membuat produk UMKM laris?

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Perkumpulan Bumi Alumni (PBA) Dewi Tenty mengatakan, memahami selera konsumen justru menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi pelaku usaha.

"Setiap tahun sekitar 20-30 UMKM terlibat dalam eksibisi, bukan bazar, sehingga seleksi produk lebih ketat. Tantangan utama UMKM adalah memahami selera pasar, khususnya tren di kalangan Gen Z yang lebih menyukai produk lokal, sehat, dan fashion olahraga," ujar Dewi dalam turnamen golf dan eksibisi UMKM PBA di Lippo Golf Karawaci, Tangerang, belum lama ini.

Menurut dia, perubahan tren membuat pelaku UMKM harus terus belajar membaca kebutuhan konsumen. Produk yang sedang diminati belum tentu bertahan lama jika tidak dibarengi kemampuan menjaga kualitas dan menyesuaikan diri dengan pasar.

Hal tersebut terlihat dari perkembangan transaksi dalam sejumlah eksibisi UMKM. Tahun lalu, 19 pelaku usaha mampu mencatat omzet Rp31,7 juta hanya dalam waktu tiga jam.

Angka tersebut kemudian meningkat pada kegiatan di Bandung pada awal September 2026. Omzet yang diperoleh mencapai Rp53,3 juta.

Data tersebut setidaknya menunjukkan adanya ruang bagi produk UMKM untuk mendapatkan pasar ketika dipertemukan langsung dengan konsumen. Namun, angka penjualan tidak semata-mata ditentukan oleh tren.

Ketua Umum PBA Ary Zulfikar mengatakan pelaku UMKM perlu memiliki ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun koneksi dengan calon konsumen maupun pelaku bisnis.

"Eksibisi UMKM menjadi sarana memperkenalkan produk ke pelaku bisnis di Jakarta dan Bandung. Kami optimis omzet tahun ini akan melebihi tahun sebelumnya," ujar Ary.

Upaya memperluas akses tersebut juga perlu dibarengi dengan pengembangan ekosistem usaha. Salah satunya melalui Koperasi UMKM Alumni Indonesia (KUALI), yang diarahkan untuk membantu anggota dalam produksi dan pemasaran produk lokal.

Semangat tersebut terangkum dalam tagline 'swing to grow', yang dimaknai sebagai upaya untuk tumbuh bersama. Artinya, pertumbuhan tidak hanya ditujukan bagi pelaku usaha secara individu, tetapi juga diharapkan membuka ruang kolaborasi agar UMKM dapat berkembang bersama.

Dukungan terhadap pengembangan UMKM juga disampaikan Menteri Koperasi Dr. Ferry Juliantono. Menurut dia, koperasi memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian sekaligus memperkuat pelaku usaha.

"Koperasi kini menjadi salah satu prioritas nasional dalam menggerakkan perekonomian, sejalan dengan arahan Presiden. Kami akan menyampaikan dukungan kepada lembaga pengelola dana bergulir Kementerian Koperasi untuk membantu Koperasi Perkumpulan Bumi Alumni," ujar Ferry.

Ferry juga mendorong agar produk lokal tidak berhenti pada pasar dalam negeri. Menurutnya, kualitas produk perlu terus ditingkatkan agar mampu bersaing lebih luas.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina PBA Bambang Soesatyo menilai dukungan terhadap UMKM dapat dilakukan dengan cara sederhana, salah satunya membeli produk yang ditawarkan pelaku usaha.

Dia pun mengajak peserta kegiatan untuk melihat sekaligus berbelanja produk UMKM yang dipamerkan. Bamsoet juga mengapresiasi para pelaku usaha dan sponsor yang ikut mendukung kegiatan tersebut.

Bagi UMKM, tren Gen Z pada akhirnya bukan sekadar soal mengikuti apa yang sedang populer. Pelaku usaha tetap perlu memastikan produk memiliki kualitas, harga yang sesuai, serta mampu menjawab kebutuhan konsumen.

Dengan kata lain, mengikuti selera Gen Z memang bisa menjadi pintu masuk ke pasar yang lebih besar. Namun, agar benar-benar laris dan bertahan, UMKM tetap harus mampu membaca perubahan selera konsumen secara konsisten.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut