Waduh, Harga Jagung di Indonesia Lebih Mahal Daripada di AS

Michelle Natalia ยท Selasa, 20 April 2021 - 13:39:00 WIB
Waduh, Harga Jagung di Indonesia Lebih Mahal Daripada di AS
ilustrasi jagung

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian)  menyatakan perlu dirumuskan mekanisme pengelolaan stok jagung di Indonesia, untuk mengendalikan fluktuasi harga jagung. Pasalnya, stok jagung yang masih bergantung pada musim, membuat harga jagung di Indonesia lebih mahal daripada Amerika Serikat (AS). 

Asisten Deputi (Asdep) Pangan Kemenko Perekonomian, Muhammad Saifulloh, penyebab mahalnya harga jagung di Indonesia disebabkan penanaman jagung tergantung musim, dimana penanaman terbesar adalah ketika musim hujan. Selain itu, rantai pasar jagung juga masih panjang, dan harga pasar lebih banyak ditentukan oleh peran pedagang pengumpil. 

Menurut dia, jika dibandingkan, harga jagung tingkat petani dan internasional, maka Indonesia lebih tinggi daripada Amerika Serikat (AS), Argentina, dan Brazil per Maret 2021. Kebutuhan jagung per bulan relatif sama sehingga harga turun ketika pasokan berlebih dan harga naik ketika pasokan berkurang. 

"Kenaikan harga jagung internasional pada Oktober 2020 hingga April 2021 sekitar 36%. Makanya perlu dirumuskan mekanisme pengelolaan stok jagung," ucap Saifulloh dalam webinar di Jakarta, Selasa (20/4/2021). 

Dia mengkritisi bahwa belum ada mekanisme cadangan jagung pemerintah sehingga rawan permasalahan muncul di tingkat petani ketika harga jatuh, dan di tingkat pengguna terutama peternak layer ketika harga jagung naik.

"Maka dari itu, perlu ada kebijakan pemanfaatan sistem resi gudang (SRG) untuk jagung. Kemendag perlu berkoordinasi dengan Pemda untuk pengembangan gudang SRG di lokasi yang berdekatan dengan sentra produksi jagung," ujar Saifulloh.

Dia juga menyarankan agar Kemendag dan Kementan perlu berkoordinasi untuk mensinergikan data lokasi mesin pengering (dryer) dan gudang SRG untuk penanganan pasca panen. Perlu pula didorong pengembangan kemitraan petani, industri, lembaga keuangan, dan pemerintah untuk optimalisasi pemanfaatan SRG.

"Perlu peningkatan sosialisasi kepada petani atau petugas pendamping terkait pemanfaatan SRG serta mendorong review kebijakan dan regulasi untuk memudahkan pemanfaatan SRG," tutur Saifulloh.

Editor : Jeanny Aipassa