Ketegangan di Timur Tengah, Harga Minyak Naik Tipis

Ranto Rajagukguk ยท Senin, 13 November 2017 - 08:42:00 WIB
Ketegangan di Timur Tengah, Harga Minyak Naik Tipis
Ilustrasi (Foto: Reuters)

NEW YORK, iNews.id - Memasuki awal pekan ini, harga minyak naik tipis di tengah ketegangan yang terjadi di Timur Tengah dan meningkatnya rig di Amerika Serikat (AS) yang mendorong produsen minyak menaikkan produksi.

Mengutip CNBC, Senin (13/11/2017), harga minyak Brent menetap di 63,64 dolar AS per barel pada pukul 00.49 GMT, naik 12 sen dolar AS saat penutupan perdagangan.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 13 sen dolar AS menjaid 56,87 dolar AS per barel.

Para pedagang mengatakan, harga minyak mentah cenderung pada level baik menyusul komitmen Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Rusia yang menurunkan produksi karena kelebihan pasokan di pasar sejak 2014.

Ketegangan di Timur Tengah diprediksi akan mengganggu pasokan, kata para pedagang.

Bahrain mengatakan akhir pekan lalu bahwa sebuah ledakan yang menyebabkan kebakaran pada pipa minyak utama pada hari Jumat disebabkan oleh sabotase yang dihubungkan ke Iran. Sementara, Iran sendiri membantah tudingan tersebut.

Meskipun terjadi ketegangan di Timur Tengah dan penurunan pasokan OPEC, para pedagang berhati-hati dalam proyeksi kenaikan harga lebih lanjut. Pasalnya, saat ini AS tengah menyiapkan pengeboran baru yang berpotensi menambah pasokan di pasar.

Produsen minyak AS telah menambahkan sembilan rig minyak dalam sepekan sampai 10 November, lompatan terbesar sejak Juni, sehingga jumlah totalnya mencapai 738, perusahaan layanan energi Baker Hughes General Electric Co mengatakan pada hari Jumat.

Jumlah rig menjadi indikator hasil produksi ke depan. Bahkan jumlah rig saat ini juga jauh lebih tinggi dari tahun lalu di mana hanya 452 rig yang aktif.

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa industri minyak AS nyaman beroperasi pada tingkat harga minyak mentah saat ini.

Produsen minyak AS telah meningkatkan produksi lebih dari 14% sejak pertengahan 2016 ke rekor 9,62 juta barel per hari.

Hal ini menyebabkan penurunan harga minyak mentah berjangka pada akhir Jumat dari level tertinggi dua tahun yang dicapai pada awal pekan lalu, kata para pedagang.

Editor : Ranto Rajagukguk

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda