5 Tips Cermat Sebelum Membeli Barang dengan Cicilan

Djairan ยท Sabtu, 11 Juli 2020 - 21:11 WIB
5 Tips Cermat Sebelum Membeli Barang dengan Cicilan

Pada masa perkembangan e-commerce seperti sekarang ini, kegiatan berbelanja dilakukan dengan sangat mudah hanya menggunakan ujung jari. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Pada masa perkembangan e-commerce seperti sekarang ini, kegiatan berbelanja dilakukan dengan sangat mudah hanya menggunakan ujung jari. Booming kemunculan platform e-commerce pada akhirnya diikuti juga oleh kemunculan banyak pilihan metode pembayaran cicilan, apalagi di tengah pandemi Covid-19 sekarang ini.

Dulu, Anda mungkin hanya mengenal cicilan memakai kartu kredit, saat ini pilihannya menjadi semakin banyak. Kini, pelanggan bisa membayar dengan aplikasi cicilan non-kartu kredit. Selain itu, ada pula pinjaman online tanpa agunan yang memungkinkan pelanggan membiayai transaksinya dari utang dan kelak mencicil pembayarannya.

Dengan beberapa penawaran tersebut, banyak orang akhirnya tergoda memanfaatkan metode cicilan ketika berbelanja. Maklum, tawaran cicilan itu biasanya juga dibarengi dengan iming-iming cicilan tanpa bunga atau nol persen, cicilan bunga rendah, cashback, dan lain sebagainya. Beragam pilihan cicilan umumnya ditawarkan untuk barang-barang konsumtif seperti gadget, barang elektronik, peralatan dapur, sampai paket liburan. 

Dikutip dari Avrist, berikut lima tips yang bisa Anda pertimbangan sebelum mengajukan kredit/cicilan:

Kenali Jenis Kebutuhan

Apakah barang yang hendak Anda beli dengan cara cicilan tersebut memiliki nilai produktif atau sekadar barang konsumtif? Barang konsumtif artinya, barang tersebut tidak memberikan nilai tambah ekonomis saat Anda memakainya. Sebenarnya, keberadaan barang tersebut juga tidak menambah daftar aset yang dapat Anda perhitungkan.

Misalnya, bila Anda membeli laptop untuk mendukung pekerjaan, laptop merupakan modal usaha yang sifatnya produktif. Sebaliknya, bila laptop hanya digunakan untuk pelengkap hiburan semata, nilai ekonomisnya tidak ada sehingga murni sebagai barang konsumtif. Begitu juga bila yang Anda cicil adalah pembayaran paket liburan. Liburannya sudah lewat, tetapi beban pembayarannya masih berlangsung di masa depan. 

Tentu hal itu secara psikologis juga tidak menguntungkan. Memilih mencicil, Anda akan terikat tenor pinjaman sampai periode tertentu. Keuangan pribadi pun harus menyesuaikan diri dengan beban cicilan tersebut. Selain itu, harga barang yang dibeli dengan cara mencicil biasanya lebih mahal dibanding bila dibeli secara tunai. Jadi, akan kurang menguntungkan bila pembelian dilakukan dengan cara cicilan.

Sadari Kemampuan Keuangan

Memilih opsi cicilan artinya Anda harus rela keuangan pribadi akan terbebani tagihan selama periode tertentu. Misalnya, Anda memutuskan membeli sebuah smartphone dengan memanfaatkan cicilan selama 12 bulan. Ini berarti selama 12 bulan Anda harus bisa mengalokasikan sejumlah dana untuk membayar cicilan gadget tersebut agar tidak menunggak. Bila sampai menunggak, maka akan ada biaya lagi yang harus Anda bayar.

Hal penting sebelum memutuskan mencicil barang tentu memeriksa lebih dulu kondisi keuangan. Untuk menjaga kondisi keuangan pribadi tetap sehat, idealnya seseorang perlu memastikan beban cicilan yang dia tanggung maksimal memakan 30 persen dari total pendapatan bulanan. Jadi, bila penghasilan rutin Anda saat ini mencapai Rp10 juta, beban pembayaran utang yang boleh ditanggung maksimal sebesar Rp3 juta per bulan. Itu termasuk segala jenis cicilan utang, mulai dari cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) bila ada, tagihan kartu kredit, cicilan kredit tanpa agunan, cicilan kredit kendaraan bermotor, dan sebagainya. Jangan nekat mengambil cicilan apabila saat ini beban cicilan Anda melebihi 30 persen dari pendapatan rutin, agar kondisi keuangan tetap sehat.

Petimbangkan Kebutuhan Penting

Membeli barang dengan cara mencicil, terlebih barang tersebut sifatnya adalah barang konsumtif, sebaiknya Anda pikirkan ulang bila kondisi keuangan sebenarnya belum ideal. Misalnya, ternyata nilai dana darurat dan investasi untuk rencana-rencana Anda di masa depan masih jauh dari ideal. Begitu juga bila pos kebutuhan lain yang lebih penting, seperti pos kebutuhan proteksi melalui pembelian polis asuransi, ternyata belum terpenuhi. Pastikan untuk lebih dulu memiliki keuangan yang sehat dan ideal sebelum memakai pendapatan untuk hal yang sifatnya cenderung tersier atau bisa ditunda.

Hitung Beban Cicilan dan Biaya Lain

Bagaimana bila arus kas masih memungkinkan untuk menambah cicilan? Anggaplah saat ini beban cicilan Anda masih memakan 15 persen dari penghasilan rutin. Dengan begitu, Anda masih memiliki ruang 15 persen lagi untuk menambah cicilan. Apabila memang barang yang hendak Anda cicil tersebut mendesak, opsi cicilan masih bisa digunakan.

Terlebih dahulu, periksalah beban cicilannya. Termasuk di sini adalah berapa besar bunga dan berapa besar denda keterlambatan cicilan. Bila bunganya ternyata cukup besar, apakah Anda sanggup menanggung pembayarannya tiap bulan? Ingat, menambah cicilan berarti ruang keuangan Anda menjadi semakin sempit. Karena itu, menghitung secara rinci efek cicilan terhadap arus kas pribadi sangat penting.

Pertimbangkan Lama Cicilan

Arus kas Anda mungkin masih bisa menanggung cicilan barang tersebut. Namun, sampai seberapa lama? Umumnya, metode pembayaran dengan cicilan menawarkan tenor mulai dari tiga bulan sampai 24 bulan. Bunga cicilan biasanya juga dipengaruhi oleh tenor pinjaman. Semakin lama tenor pinjaman, boleh jadi bunganya lebih mahal.

Bila Anda memakai kartu kredit, mungkin bisa memakai cicilan nol persen. Namun, tetap perlu diperhitungkan, bila mengambil cicilan nol persen sampai lebih dari enam bulan, misalnya, ada biaya tahunan kartu yang harus Anda bayarkan kelak. Selain itu, perhitungkan juga efek lama cicilan tersebut terhadap arus kas pribadi Anda. Semakin lama tenor cicilan yang Anda ambil, semakin lama pula beban utang harus ditanggung. Karena itu, lebih baik bila memilih tenor cicilan yang tidak terlalu lama dengan nominal beban cicilan yang masih masuk dalam batas aman debt service ratio keuangan pribadi yakni 30 persen. 

Editor : Ranto Rajagukguk