Bursa Asia Kompak Tertekan Jelang Pengumuman Sanksi Baru untuk Rusia

Dinar Fitra Maghiszha ยท Kamis, 24 Maret 2022 - 11:34:00 WIB
Bursa Asia Kompak Tertekan Jelang Pengumuman Sanksi Baru untuk Rusia
Ilustrasi pergerakan harga saham di Bursa Hong Kong. (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id - Bursa saham di kawasan Asia kompak bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis (24/3/2022), menjelang pengumuman sanksi Barat terbaru untuk Rusia.

Indeks MSCI yang mengukur kinerja saham Asia Pasifik di luar Jepang turun -0,6 persen. Berdasarkan data Investing hingga pukul 09:44 WIB, KOSPI Korea Selatan (KS11) tertekan -0,69 persen di 2.716,10, Hang Seng Hong Kong (HSI) turun -0,45 persen di 22.054,00, dan Nikkei 225 Jepang (N225) melemah -1,00 persen di 27.758.

Shanghai Composite China (SSEC) terpuruk -0,70 persen di 3.248,02, Taiwan Weighted (TWII) anjlok -0,52 persen di 17.639,71. Adapun Straits Times Singapura tumbuh 0,57 persen di 3.383,87, dan Australia ASX 200 (AXJO) menguat 0,10 persen di 7.385,00, sementara Indonesia Composite Index / IHSG naik 0,29 persen di 7.016,72.

Koreksi di pasar ekuitas Asia terjadi setelah mengalami penguatan dalam beberapa sesi terakhir. Ini merupakan respons jelang pengumuman sanksi dari barat dalam hal ini Amerika Serikat, NATO, dan Uni Eropa terhadap Rusia.

Presiden AS Joe Biden tiba di Brussel untuk serangkaian pertemuan puncak yang membahas Perang Ukraina. Biden diperkirakan akan mengumumkan sejumlah sanksi baru AS pada Kamis waktu setempat (24/3).

Langkah Biden tampaknya direspons negatif oleh Wall Street pada penutupan semalam. Dow Jones Industrial Average turun -1,3 persen di 34.358,5. Indeks S&P 500 merosot -1,2 persen di 4.456,2. Sedangkan Nasdaq Composite melemah -1,3 persen di 13.922,60.

"Pasar ekuitas tampak mulai berbalik arah setelah reli baru-baru ini, menyusul yield obligasi yang juga menurun, (penurunan) ini diperkirakan masih terbatas," kata Kyle Rodda, analis pasar di IG, seperti dikutip Reuters, Kamis (24/3/2022).

Rodda mewaspadai ada tekanan lebih dalam merespons isu geopolitik yang saat ini sedang berkembang. "Ini masih merupakan volatilitas pasar yang biasa, (yang) menunjukkan bahwa pergerakan saham saat ini harus dibaca dengan hati-hati," ujar Kyle Rodda.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda