Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Terkoreksi ke Rp16.740 per Dolar AS
Advertisement . Scroll to see content

Kurs Rupiah Ditutup Tertekan ke Rp14.042 per Dolar AS

Senin, 16 September 2019 - 18:23:00 WIB
Kurs Rupiah Ditutup Tertekan ke Rp14.042 per Dolar AS
Kurs rupiah melemah. (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA,iNews.id - Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan, Senin (16/9/2019) bertahan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda terpantau berada di level psikologis Rp14.000 per dolar AS.

Data Bloomberg menunjukkan, rupiah melemah 75 poin atau 0,54 persen menjadi Rp14.042 per dolar AS dari posisi terakhir pekan lalu Rp13.966 per dolar AS. Laju pergerakan harian rupiah tercatat Rp13.990-14.054 per dolar AS dengan level pembukaan di Rp13.996 per dolar AS.

Yahoo Finance mencatat, rupiah terdepresiasi 75 poin atau 0,53 persen menjadi Rp14.035 per dolar AS dari sesi terakhir sebelumnya Rp13.960 per dolar AS. Saat dibuka, rupiah diperdagangkan di Rp13.946 per dolar AS dengan rentang pergerakan harian Rp13.946-14.050 per dolar AS.

Berdasarkan laporan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah melemah 70 poin menjadi Rp14.020 per dolar AS dari sebelumnya Rp13.950 per dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, kurs rupiah melemah terseret peningkatan tensi di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia. 

"Perkembangan di Timur Tengah kembali memanas akibat salah satu kilang minyak di Arab Saudi milik Saudi Aramco diserang. Dan Iran yang dijadikan kambing hitam," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Kenaikan harga minyak membawa sentimen negatif bagi rupiah, mengingat Indonesia adalah negara net importir minyak.

Jika harga minyak naik, maka biaya impor migas bakal semakin mahal. Artinya akan semakin banyak devisa yang terbakar untuk impor migas dan membuat tekanan di neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) meningkat.

"Saat devisa dari ekspor-impor barang dan jasa seret, maka fondasi penyokong rupiah menjadi rapuh karena bergantung kepada portofolio di sektor keuangan atau hot money yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Oleh karena itu, rupiah akan rentan melemah," kata Ibrahim.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut