Mata Uang Kripto Rontok, Bitcoin dan Etherium Alami Penurunan Terbesar
JAKARTA, iNews.id - Harga sejumlah mata uang kripto rontok pada perdagangan Jumat (21/1/2022). Penurunan terbesar dipimpin oleh dua kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin dan Ethereum.
Dikutip dari CNBC, Bitcoin mengalami penurunan sekitar 15 persen dan diperdagangkan sekitar 36.000 dolar AS atau setara Rp515,87 juta pada Jumat malam, menurut Coin Metrics. Kemudian, Ethereum anjlok sekitar 20 persen di harga sekitar 2.500 dolar AS atau setara Rp35,82 juta.
Penurunan mata uang kripto mengikuti pelemahan Wall Street pada hari Kamis (20/1/2022), di mana Nasdaq Composite kehilangan 7,6 persen minggu ini, dan S&P 500 turun 5,7 persen untuk penurunan mingguan ketiga berturut-turut.
Kenaikan suku bunga telah mendorong investor untuk melepaskan posisi dalam aset berisiko. Awal pekan ini, benchmark imbal hasil Treasury 10-tahun diperdagangkan di atas 1,9 persen.
Serius Bidik Dunia Metaverse, Walmart Buat Mata Uang Kripto dan NFT
Federal Reserve juga telah mengindikasikan rencananya untuk mulai mengurangi neraca, serta pengurangan obligasi dan menaikkan suku bunga.
Bersiap Masuki Metaverse, Walmart Buat Mata Uang Kripto dan NFT
Regulator juga menindak mata uang kripto. China sepenuhnya melarang semua aktivitas terkait kripto dan otoritas AS juga menekan aspek-aspek tertentu dari pasar.
Sebelumnya, Moya dari Oanda telah memperkirakan bahwa Bitcoin bisa jatuh di bawah 40.000 dolar AS karena bank sentral Rusia telah mengusulkan larangan penggunaan dan penambangan mata uang digital tersebut di wilayah Rusia.
Berikut Daftar Alat yang Dibutuhkan untuk Mining Bitcoin
Hal ini disebabkan mata uang digital menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan dan kedaulatan kebijakan moneter. Rusia adalah salah satu dari tiga negara teratas untuk penambangan Bitcoin.
Editor: Aditya Pratama