Apindo: Petumbuhan Ekonomi Akan Kembali Ambruk meski Tak Separah PSBB Sebelumnya

Aditya Pratama ยท Minggu, 13 September 2020 - 18:00 WIB
Apindo: Petumbuhan Ekonomi Akan Kembali Ambruk meski Tak Separah PSBB Sebelumnya

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total kembali menurun. (Foto: Sindonews)

JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total kembali menurun. Namun, penurunan ini tidak akan terjadi sedalam penurunan yang terjadi pada penerapan PSBB pada Maret lalu.

Wakil Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani mengatakan, pihaknya berasumsi PSBB akan menjadi lebih halus dilaksanakan pelaku usaha dan masyarakat karena sudah pernah dilakukan sebelumnya.

"Sehingga blunder-blunder koordinasi dan pelaksanaan PSBB seperti yang terjadi pada April-Mei menjadi minim dan kinerja perusahaan yang masih boleh beroperasi bisa maksimal," ujar Shinta saat dihubungi, Minggu (13/9/2020).

Selanjutnya, Shinta menyebutkan sebagian besar pelaku usaha sudah bertransisi ke sistem online trading dan remote working secara maksimal. Perusahaan sudah terbiasa mengatasi aktivitas saat PSBB sehingga kinerja tidak terlalu drop meski permintaan pasar domestik secara agregat cenderung turun.

Selain itu, kinerja ekspor juga tetap akan tumbuh positif tanpa hambatan sepanjang PSBB, dengan catatan tidak ada gangguan logistik perdagangan maupun masalah inefisiensi supply chain di sisi produksi maupun perdagangan.

"Kinerja ekonomi nasional bisa dibantu oleh perbaikan permintaan pasar global yang memiliki tren positif terhadap normalisasi kegiatan ekonomi," katanya.

Dia menuturkan, jika asumsi tersebut berubah menjadi lebih buruk, maka proyeksi pertumbuhan kinerja juga berubah ke arah yang lebih negatif atau pesimistis. Proyeksi ini juga tidak berlaku secara sektoral karena beberapa sektor kemungkinan besar akan mati total atau memiliki kinerja mendekati nol seperti sektor retail, angkutan massa dan sektor jasa pada umumnya (selain sektor-sektor jasa yang sifatnya lebih sebagai public facilities yang diizinkan beroperasi sepanjang PSBB seperti sektor energi, perbankan, telekomunikasi dan lain-lain).

"Untuk sektor-sektor tersebut dampaknya akan sangat immediate. Jadi, begitu diberlakukan Senin, penurunan kinerjanya akan terasa pada detik itu juga. Untuk sektor lain penurunannya akan bervariasi antara 30-80 persen tergantung jenis outputnya," ujar Shinta.

"Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha akan mengupayakan segala hal untuk bertahan. Ini bisa dalam bentuk transisi ke remote working, online trading, memaksimalkan pemanfaatan stimulus-stimulus pemerintah atau meminta dispensasi untuk beroperasi kepada pemda sesuai dengan kebutuhan kinerjanya," katanya.

Editor : Dani Dahwilani