Banderol Beras Medium Naik, Mentan: Ini Anomali, Jangan Ubah Harga

Rully Ramli ยท Kamis, 08 November 2018 - 12:32:00 WIB
Banderol Beras Medium Naik, Mentan: Ini Anomali, Jangan Ubah Harga
Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Pemerintah menyoroti harga beras medium yang mulai melambung tinggi karena minimnya pasokan di pasar. Bahkan, data Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta menunjukkan, pasokan beras medium hanya sekitar 15 persen dari seluruh stok yang ada di sana.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan, kenaikan harga beras medium belakangan ini di tengah kondisi stok beras yang cukup, sebagai sebuah anomali. "Jadi, yang kita tunggu adalah turun. Ini ada anomali. Kita serahkan ke satgas pangan saja dan kita mengimbau kepada semua pihak, supaya jangan mengubah harga,” kata Amran di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi mengatakan, ketersediaan beras medium menurun karena ada kecenderungan diubah menjadi beras premium. "Artinya kalau panennya segitu kemudian mereka prefer ke premium, karena marginnya lebih tinggi. Ini adalah mekanisme ekuilibrium baru, ini fenomena yang terjadi. Jadi bukan masalah produksi,” kata Arief.

Dia memaparkan, spefikasi beras premium yang sesungguhnya hanya 5 persen broken. Namun, spefikasi beras premium yang kini ada di pasar, yaitu 15 persen broken dengan jumlah melebihi beras medium.

"Kalau saya melihatnya ini lebih baik. Jadi orang ngambilnya berasnya yang lebih baik. Enggak mau lagi beras medium,” tutur dia.

Ketua Satgas Pangan Pusat Irjen Setyo Wasisto juga mengungkap, ada indikasi para pedagang mengubah spesifikasi beras dari medium menjadi premium. "Ini menjadi tugas saya sebagai satgas pangan untuk melakukan pengawasan. Kita akan lakukan cek di lapangan dan melakukan uji laboratorium juga atas kualitas beras yang ada di lapangan," ujarnya.

Dia memaparkan, uji laboratorium sangat penting dilakukan agar masyarakat bisa membeli beras sesuai dengan kriterianya, baik medium maupun premium sehingga tidak dirugikan.

Di luar persoalan anomali harga beras medium, Bank Indonesia mencatat dalam tiga tahun terakhir Indonesia berhasil menjaga stabilitas harga pangan, sehingga menurunkan sangat signifikan angka inflasi pangan.

"Untuk pangan tahun 2010 (inflasi pangan) cukup tinggi 10%. Memang 2-3 tahun terakhir berhasil ditekan terakhir menjadi 1,29%. Bahkan 3 tahun berturut-turut harga pangan stabil. Lebaran 2 tahun terakhir juga sangat stabil, Oktober kemarin bahkan pangan deflasi,” kata Trisno Nugroho Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta.

Komoditas pangan yang menyumbang penurunan inflasi di antaranya beras, daging ayam ras, juga telur. Ia memastikan harga pangan di tahun ini masih stabil karena pemerintah menjaga ketersediaan stoknya.

"Kami juga memberi proyeksi terkendali sampai akhir tahun ini. Ini rekor, baik sekali di DKI Jakarta TPID nya melihat bahwa 2-3 tahun terakhir pangan enggak ada masalah,” ujarnya.

Editor : Ranto Rajagukguk