Cetak Rekor, Jumlah Pengangguran di Australia Hampir 1 Juta Orang

Djairan ยท Jumat, 17 Juli 2020 - 14:10 WIB
Cetak Rekor, Jumlah Pengangguran di Australia Hampir 1 Juta Orang

Biro Statistik Australia (ABS) mengumumkan, tingkat pengangguran Negeri Kanguru tersebut mencapai puncak tertinggi dalam 22 tahun terakhir. (Foto: AFP)

SYDNEY, iNews.id - Biro Statistik Australia (ABS) mengumumkan, tingkat pengangguran Negeri Kanguru tersebut mencapai puncak tertinggi dalam 22 tahun terakhir, yaitu naik sebanyak 69.300 jiwa atau 7,4 persen, sehingga menjadi hampir 1 juta jiwa hingga akhir Juni 2020. Jumlah tersebut sekitar sepertiga lebih banyak, dari jumlah pengangguran selama krisis keuangan global pada 2008 silam. 

Hal ini dipicu oleh lonjakan jumlah orang yang mencari pekerjaan, namun tak diimbangi pertumbuhan lapangan kerja yang cukup seiring telah dibukanya perekonomian setempat.

Ekonom memperkirakan, tingkat pengangguran akan naik lebih tinggi di atas 11 persen, jika tidak dibantu dengan skema subsidi upah dari program yang digagas pemerintah. Stimulus tersebut yang sampai saat ini membantu perusahaan untuk mempertahankan stafnya, dengan tetap menerima gaji meskipun mereka dirumahkan.

Namun, pemerintah diperkirakan menarik skema subsidi upah bagi pengangguran tersebut. Tampaknya tingkat pengangguran akan tetap tinggi untuk beberapa waktu ke depan. 

Hal ini juga diperparah dengan kemungkinan gelombang kedua kasus positif Covid-19 di wilayah Victoria.

"Ke depan, kami memperkirakan kelemahan di pasar tenaga kerja, dengan daya tampung lapangan pekerjaan yang masih terbatas, maka pengangguran bisa meningkat di atas 8 persen," ujar ekonom dari bank investasi UBS AG of Australia, George Tharenou dikutip dari Reuters Jumat (17/7/2020).

Sementara itu, Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg dikabarkan akan menerbitkan kembali anggaran bantuan tambahan bagi penduduk setempat pada 23 Juli. Frydenberg kemungkinan juga mengumumkan penarikan skema perlindungan bagi pengangguran di waktu yang sama.

Bank Sentral Australia juga telah berupaya penyelamatan perekonomian, dengan memotong suku bunga ke rekor terendah 0,25 persen. Langkah itu membanjiri sistem keuangan dengan uang tunai, dan bahkan membeli obligasi pemerintah guna menurunkan suku bunga pinjaman untuk bisnis.  

Editor : Ranto Rajagukguk