Dorong Program Santri Tani Milenial, Kementan Ingin Cetak Eksportir Milenial

Ranto Rajagukguk ยท Sabtu, 24 Agustus 2019 - 16:05 WIB
Dorong Program Santri Tani Milenial, Kementan Ingin Cetak Eksportir Milenial

Generasi muda yang identik dengan sebutan milenial kini menjadi harapan dan tulang punggung dalam menunjang pembangunan di Indonesia, khususnya pertanian. (Foto: Kementan)

JAKARTA, iNews.id - Generasi muda yang identik dengan sebutan milenial kini menjadi harapan dan tulang punggung dalam menunjang pembangunan di Indonesia, khususnya pertanian. Potensi untuk regenerasi petani dari Pondok Pesantren sangat dimungkinkan, terlebih saat ini banyak orang tua memercayakan pendidikan di Pondok Pesantren Modern atau Boarding School.

Terkait peluang di era ekonomi digital saat ini, Kementerian Pertanian (Kementan) melihat adanya potensi besar yang bisa dikembangkan di lingkungan pondok pesantren. Seluruh sumber daya termasuk para santri ini harus dilatih semaksimal mungkin agar sasaran-sasaran tersebut bisa tercapai.

"Pesantren menjadi potensi untuk menciptakan regenerasi petani, melalui program Santri Tani Milenial. Kita dorong generasi santri untuk terjun ke pertanian. Sekarang pertanian sudah canggih, alat-alat pertanian sudah banyak tersebar seperti alat mengolah, menanam dan panen, " ucap Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian Dedi Nursyamsi dalam keterangannya, Sabtu (24/8/2019).

Dedi menyampaikan, santri-santri ini selain mendapat pendidikan utama di pesantren, akan diberikan pembekalan ilmu dan pendampingan yang komprehensif, termasuk kegiatan budi daya, teknologi pertanian, pascapanen dan pemasaran. Santri ini akan bertani dengan teknologi digital, karena era milenial dikenal sebagai era yang serbadigital, serbacepat, dan mudah diakses.

"Kita kan sudah berjalan dari awal tahun 2019 program ini, yaitu dengan Kelompok Tani Santri Milenial (KSTM). Para santri ini nantinya setelah keluar dari pondok memiliki lifeskill dan syukur-syukur bisa menjadi job seeker dan job creator hingga jadi eksportir milenial, " tutur Dedi.

Dedi meyakini eksportir milenial bisa saja munculnya dari jebolan Pondok Pesantren. Hal ini dikarenakan penanaman kepribadian, agama, dan kemandirian dibina sejak dini sehingga akan mengantarkan jiwa siap untuk mengembangkan potensi. Lingkungan dan ekosistem di pesantren sangat mendukung. Di beberapa pondok yang memiliki lahan yang luas, sudah banyak santrinya dibekali untuk berternak, jadi lebih mudah untuk membimbing dan membinanya.

"Nanti santri-santri itu akan kita kelompokkan, kemudian kita arahkan minatnya. Apa ke ternak, budi daya tanaman, pengolahan hasil atau pemasaran produk pertanian. Kita memiliki Balai-balai pelatihan dan pakar-pakar pertanian pun kita cukup lengkap ditambah teknologi yang siap diterapkan di masyarakat. Kita akan dampingi para santri tersebut melalui kelompok, kita arahkan ke beberapa komoditas semisal berternak ayam, domba/kambing dan berkebun," kata Dedi.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa meresmikan One Pesantren One Product (OPOP) Training Center di Universitas NU Surabaya (Unusa) bersama Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) Prof Mohammad Nuh DEA dan perwakilan International Council for Small Business (ICSB) di Kampus Unusa Surabaya Jalan Jemursari Surabaya, Kamis (22/8/2019).

Khofifah juga melihat potensi pesantren di Jatim yang cukup besar. Tinggal bagaimana membangun jejaringnya agar produk dari pesantren bisa dikenal publik. Selain itu Khofifah menyampaikan, produk dari pesantren bisa dibenahi kualitasnya dan ditingkatkan kuantitasnya.

"Karena di Jawa Timur jumlah pesantrennya banyak ada lebih dari 6 ribu pesantren. Cuma banyak di antara mereka yang tidak mendapat pendampingan secara komprehensif. Artinya kualitasnya, jejaring marketnya kalau bahasa saya mungkin ada yang memang belum punya GPS. Jadi kalau ada produk-produk yang memiliki kemiripan harus disiapkan RnD jadi tidak bisa hari ini kita berbicara daya saing tanpa disupport oleh research and development," kata Khofifah.

Khofifah berharap hal ini bisa memandirikan pesantren hingga santri. Jika lulus nanti para santri bisa hidup mandiri. Nantinya setelah lulus dari pesantren mereka lebih siap untuk mandiri lewat sektor apa pun. Memandirikan warga itu menjadi penting apalagi yang mandiri kemudian bisa membuka lapangan kerja.


Editor : Ranto Rajagukguk