Ekonomi Global Tak Menentu, Indonesia Jauh Lebih Baik daripada Turki dan Rusia

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Senin, 09 September 2019 - 18:02 WIB
Ekonomi Global Tak Menentu, Indonesia Jauh Lebih Baik daripada Turki dan Rusia

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dinilai masih lebih baik dibandingkan negara-negara emerging market lainnya. (Foto: ilustrasi/Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Ekonomi Indonesia dinilai cukup baik di tengah kondisi ekonomi global yang bergejolak. Bahkan, Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara emerging market lain seperti Turki dan Rusia.

Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Panji Irawan menyebut, ekonomi Indonesia pada enam bulan pertama tahun ini yang tumbuh 5,06 persen memang di bawah harapan banyak pihak.

"Namun, kita harus bersyukur karena pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara emerging markets lainnya," ujarnya dalam acara Macro Economic Outlook 2019 di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Dia mencontohkan Turki yang kondisi ekonominya tertekan dalam beberapa bulan terakhir. Pada kuartal II-2019, pertumbuhan ekonomi Turki bahkan negatif 1,5 persen setelah terkontraksi pada kuartal sebelumnya masing-masing 2,4 persen (kuartal I-2019) dan 2,8 persen (kuartal IV-2018).

Selain Turki, kata Panji, negara-negara emerging market lainnya juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang tidak menggembirakan. Sejumlah negara yang tingkat pertumbuhannya di bawah Indonesia di antaranya Malaysia 4,9 persen, Thailand 3,7 persen, Brazil 1,01 persen, dan Rusia 0,9 persen.

Panji menilai, kondisi ekonomi global yang tidak kondusif membuat negara-negara emerging market tertekan. Kondisi tersebut belum akan berakhir mengingat pertumbuhan ekonomi global pada 2019 dan 2020 akan lebih lambat dibandingkan tahun 2017 dan 2018.

"IMF misalnya, memperkirakan pertumbuhan tahun 2019 sebesar 3,2 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 3,6 persen," ucapnya.

Dia berpendapat, perlambatan ekonomi global ini dipercepat dengan situasi perang dagang antara AS dan China yang penuh ketidakpastian. Situasi ini membuat harga-harga komoditas turun, sehingga berdampak pada turunnya kinerja ekspor negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Harga CPO misalnya terus turun ke level 500 dolar AS per metrik ton. Padahal pada 2017 masih berada di kisaran 648 dolar AS per metrik ton. Harga batu bara juga turun ke level 65 dolar AS per ton sementara pada 2017 berada di atas 100 dolar AS per ton.


Editor : Rahmat Fiansyah