Erick Thohir Surati Menteri ESDM, Bantu Penjualan Listrik PLN

Suparjo Ramalan ยท Kamis, 01 Oktober 2020 - 22:44 WIB
Erick Thohir Surati Menteri ESDM, Bantu Penjualan Listrik PLN

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. (Foto: Antara

JAKARTA, iNews.id - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dikabarkan menyurati Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif. Dalam isi surat itu, Erick meminta Kementerian ESDM membantu mengatasi kelebihan pembangkit sehingga memperbaiki permintaan listrik PT PLN (Persero).

Dalam isi surat juga disebutkan, untuk memulihkan PLN dari dampak pandemi Covid-19, Kementerian ESDM diminta dapat mendorong pelaku usaha menggunakan jasa PLN serta menyesuaikan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) RUPTL 2020-2029.

Surat tertanggal 18 September 2020 itu pun menuliskan, Kementerian ESDM diminta membatasi pemberian izin usaha penyediaan listrik dan captive power. Hal itu untuk membantu penjualan listrik PLN.

"Kami harapkan dukungan saudara untuk mendorong pelaku usaha menggunakan listrik yang disediakan PT PLN (Persero), antara lain dengan membatasi pemberian izin usaha penyediaan listrik dan captive power," demikian bunyi isi surat tersebut, dikutip Kamis (1/10/2020). 

Menanggapi hal itu, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga membenarkan isi surat tersebut. Meski begitu, Arya menyebut, permohonan bantuan kepada Kementerian ESDM dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), bukan berarti kondisi keuangan PLN tidak membaik. 

"Mengenai surat Pak Menteri ke ESDM dan BKPM itu memang benar, surat Pak Menteri itu bukan berarti bahwa PLN itu kondisinya parah," ujar Arya kepada wartawan. 

Dia menjelaskan, Erick menginginkan agar kondisi pasokan listrik berlebih PLN dapat ditangani dengan baik serta tidak terjadi pemborosan. Karena itu, ketimbang membangun pembangkit lagi, lebih baik memanfaatkan pasokan listrik yang sudah ada. 

Arya memastikan, PLN mampu memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia. "Yang dilihat Pak Menteri adalah karena PLN sudah over supply, ngapain kalau tidak dimanfaatkan dan juga kalau ada institusi baru, apalah namanya itu? Enggak perlu buat pembangkit baru, karena sudah over supply, bagusnya memanfaatkan yang sudah ada," tuturnya.

Editor : Ranto Rajagukguk