Fakta-Fakta Bisnis Jastip, iPhone 11 Paling Banyak Dicari

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Minggu, 29 September 2019 - 21:03 WIB
Fakta-Fakta Bisnis Jastip, iPhone 11 Paling Banyak Dicari

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) selama 2019 telah mengusut 422 kasus jasa titip barang (jastip). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) selama 2019 telah mengusut 422 kasus jasa titip barang (jastip). Modus yang digunakan ialah memecah barang pesanan (splitting) kepada orang-orang dalam satu rombongan.

Meski telah banyak dijegal, tapi pelaku jastip nakal ini belum kapok melakukan pelanggaran. Dari penangkapan tahun ini saja pemerintah telah berhasil menyelamatkan penerimaan negara sebesar Rp4 miliar.

Berikut lima fakta unik mengenai kasus jastip tahun ini yang dihimpun iNews.id:

1. iPhone 11 Menjadi Barang Terfavorit

Apple telah merilis produk iPhone terbarunya yaitu iPhone 11, iPhone 11 Pro, dan iPhone 11 Pro Max. Ketiganya dijual serentak di 31 negara pada 20 September 2019. Hal ini menjadi peluang bagi pelaku jastip untuk menawarkan jasanya karena produk elektronik ini belum dirilis di Indonesia.

Jastip barang impor ini memang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan barang-barang yang tidak dijual secara resmi di Indonesia. Pasalnya, pelaku jastip akan membelikan barang tersebut di luar negeri untuk konsumennya yang memesan.

Meski kebanyakan barang yang diminta adalah produk elektronik, tapi banyak juga konsumen yang meminta dibelikan berbagai produk fashion mahal, kosmetik, hingga makanan. 

"Barang yg menjadi favorit di kasus jastip ini iPhone 11. Tas berbagai merek tas ibu-ibu yang mahal, pakaian kelas mewah, kalung dan cincin juga sepatu. Ada kosmetik juga tapi jumlahnya tidak terlalu banyak," ujar Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi di kantornya beberapa waktu lalu.

2. Negara Asia Jadi Tujuan Utama

LOkasi-lokasi yang menjadi destinasi favorit pelaku jastip biasanya di sekitaran Asia. Tapi paling banyak dari negara-negara tetangga seperti Australia dan SIngapura.

"Barangnya dari beberapa negara yang menjadi sentra-sentra elektonik dan fashion dunia. Contohnya Bangkok (Thailand), Singapura, Guangzhou (China), Abu Dhabi (UEA), Hong Kong (China), dan Australia," ucapnya.

3. Belum Ada Payung Hukumnya

Heru mengakui bisnis jastip ini masih belum memiliki aturan yang jelas. Selama ini pemerintah hanya menindak oknum-oknum yang diduga pelaku jastip yang menggunakan modus splitting untuk mengakali aturan pemerintah terkait batas nilai pembebasan bea sebesar 500 dolar AS per orang.

Pemerintah selama ini menindak berdasarkan aturan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 203 Tahun 2017  tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Barang yang Dibawa oleh Penumpang dan Awak Sarana Pengangkut. Sementara untuk tindakan pencegahan dan mekanismenya belum disusun.

4. Barang Jastip Wajib Dikenakan Bea Masuk dan Pajak

Setiap barang yang dibeli di luar negeri dan diperuntukkan untuk dijual akan dikenakan pajak dan bea masuk impor. Adapun jenis pajaknya beraneka ragam seperti pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen, pajak penghasilan (PPh) 10 persen, dan bea masuk 7,5 persen.

"Kita arahkan seperti barang komersial lain sehingga semua harus dibayar, dari fiskal, dokumen-dokumen juga harus seperti barang komersial karena dia sedang berdagang," kata dia.

5. Banyak Bertebaran di Media Sosial

Pelaku jastip banyak menjajakan jasanya di sosial media dibanding di platform resmi seperti e-commerce. Dari tahun ke tahun jumlah jastip sudah berkembang pesat dan mulai meresahkan pengusaha ritel dalam negeri.

Oleh karenanya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu mengimbau agar para pelaku jastip atau personal shopper untuk memasarkan produknya melalui e-commerce bukan media sosial. Penggunaan platform resmi ini merupakan salah satu syarat pelaku jastip untuk berbisnis secara legal.

Selain itu, pelaku jastip membuat NPWP dan membentuk sebuah perusahaan atau bekerja sama dengan peritel yang ada di Indonesia. Hal ini untuk menciptakan level kesetaraan dengan pengusaha ritel lainnya.

Editor : Ranto Rajagukguk