Industri dan Ekspor Makin Kuat, Ekonomi China di 2018 Bakal Melesat
JAKARTA, iNews.id - Pertumbuhan ekonomi China di 2018 diprediksi berada di kisaran 6,7-6,9 persen dengan melihat capaian tahun kemarin yang melebihi perkiraan. Tahun 2017, pertumbuhan ekonomi China yang diperkirakan sebesar 6,5 persen, ternyata bisa mencapai 6,7 persen.
"Pertumbuhan ekonomi China harusnya di atas 6,5. Kalau menurut saya bisa diproyeksikan 6,7-6,9," kata Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE), Pieter Abdullah Redjalam saat dihubungi iNews.id, Minggu (21/1/2018).
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini akan mengingkat dibanding tahun kemarin. Prediksi tersebut berdasarkan karena China sedang melakukan rekonsiliasi atau pemulihan perekonomian dalam negerinya.
"Kalau dilihat dari kemampuannya tahun ini bisa mencapai 6,9, kalau saya memperkirakan proses rekonsiliasinya bisa lebih cepet," ucapnya.
Pieter mengatakan, banyak analis yang terkejut dengan perekonomian China tahun kemarin yang ternyata mampu melampaui perkiraan. Pencapaian ini tidak lain karena adanya rebound di sektor industri dan besaran ekspor Tiongkok yang di atas perkiraan.
"Tapi yang hampir semua analis meleset adalah seberapa cepat pemerintah China melakukan rebalancing perekonomiannya," tutur Pieter.
Ia melanjutkan, tahun ini kemungkinan adanya kejutan lanjutan karena China masih melakukan rekonsiliasi perekonomian dalam negerinya. Hanya saja semua tergantung seberapa cepat China memproses rekonsiliasinya untuk bisa melampaui perkiraan analis lainnya di tahun ini.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) sebelumnya memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China akan melambat di kisaran 6,5 persen. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh pada negara berkembang seperti Indonesia karena adanya proses rebalancing di perekonomian China.
"Perekonomian China diperkirakan akan lebih didorong oleh ekspornya dan konsumsi. Bagaimana dampak pada negara berkembang? Tentu bisa. Terpengaruh pada permintaan komoditi dari china karena pengaruh daripada investasi yang juga terhambat," kata Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo.
Selain itu, dengan tetap membaiknya pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju tentu dapat mendorong transaksi perdagangan China yang kemudian dapat meningkatkan impor dari negara-negara berkembang.
Editor: Ranto Rajagukguk