Lifting Migas 2019 Tak Capai Target, Begini Penjelasan Kepala SKK Migas

Aditya Pratama ยท Kamis, 09 Januari 2020 - 15:40 WIB
Lifting Migas 2019 Tak Capai Target, Begini Penjelasan Kepala SKK Migas

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto (tengah). (Foto: iNews.id/Aditya Pratama)

JAKARTA, iNews.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas)‎ membeberkan realisasi produksi minyak dan gas bumi (migas) siap jual (lifting migas) tahun 2019. Pada tahun tersebut, lifting migas tidak mencapai target atau hanya membukukan persentase 90,5 persen.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menuturkan, realisasi lifting migas sepanjang tahun 2019 mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd). Sedangkan, dalam target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar 2,025 juta boepd.

"Realisasi lifting migas 2019 90,5 persen‎ dari target APBN dan 101,1 persen dari target WP&B (Work Program and Budget) yang disepakati dengan KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama)," ujar Dwi, dalam konferensi pers di Kantor SKK Migas, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2020).

Dwi menambahkan, realisasi lifting minyak tahun 2019 mencapai 746.000 barel per hari (bph) atau hanya 96,3 persen dari target APBN 2019 sebesar 775.000 bph. Sementara itu, untuk realisasi lifting gas bumi sepanjang tahun lalu mencapai ‎5.934 mmscfd atau 84,5 persen dari target APBN 2019 7.000 mmscfd.

Menurut dia, potensi lifting minyak Tanah Air bisa mencapai 752.000 bph. Namun, ada berbagai hal yang membuat capaian tahun 2019 tak sesuai target.

‎"Beberapa yang buat terjadi pengurangan, yakni kebocoran Exxon Mobil Cepu Limited di Cepu yang kalau setahun berkurang 2.900 barel per hari. Kebocoran pipa, permasalahan kelistrikan di PHE OSES unplanned shutdown 46 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), isu H2S Spike HCML, kebakaran hutan Riau mengurangi produksi minyak Chevron Pacific Indonesia,"‎ kata dia.

Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) ini menyebut, lifting gas Indonesia berpotensi mencapai 6000 mmscfd. Namun, karena ada gas yang belum terserap pada tahun lalu, maka lifting gas hanya mencapai 5.934 mmscfd.

"Itu disebabkan curtailment pembatalan pembelian gas, belum terjual," ucap Dwi.


Editor : Ranto Rajagukguk