Negara Besar Masuk Resesi, Ini yang Harus Jadi Perhatian Pemerintah

Aditya Pratama ยท Jumat, 31 Juli 2020 - 15:09 WIB
Negara Besar Masuk Resesi, Ini yang Harus Jadi Perhatian Pemerintah

Ancaman resesi ekonomi Indonesia sudah di depan mata. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Ancaman resesi ekonomi Indonesia sudah di depan mata. Setidaknya, saat ini sudah ada empat negara yang terkena resesi ekonomi di tengah pandemi Covid-19, yaitu Singapura, Hong Kong, Korea Selatan dan Jerman.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyebut, ada tiga sektor yang harus jadi perhatian pemerintah di tengah ancaman resesi ekonomi. Pasalnya, dampak resesi negara-negara di atas akan memengaruhi beberapa aspek ekonomi.

"Dari sisi investasi misalnya, negara yang sudah mengumumkan resesi di kuartal II 2020 adalah negara yang termasuk kedalam top lima negara asal investasi asing terbesar di Indonesia. Singapura dan Hongkong misalnya adalah hub keuangan dunia. Perusahaan asing kantor pusatnya banyak di Singapura dan Hongkong," ujar Bhima saat dihubungi, Jumat (31/7/2020).

Bhima menilai, jika negara asalnya terganggu resesi, keputusan investasi di Indonesia bisa tertunda sampai ada tanda pemulihan. Imbasnya, pada serapan tenaga kerja dari investasi asing pasti menurun pada 2020. 

Begitu pun dari sisi perdagangan. Dia mengatakan, kawasan asia yang resesi juga punya peran strategis sebagai hub produk ekspor Indonesia sebelum masuk ke China. 

"Apakah mungkin permintaan ekspor Indonesia ikut turun karena Hong Kong minus growth-nya? bisa jadi," kata dia.

Terakhir adalah efek ke tenaga kerja Indonesia di Hong Kong dan Singapura sebagai kontributor penting devisa. Bhima menyebut, resesi juga berdampak ke kesejahteraan pekerja migran di Hong Kong dan Singapura. Kiriman uang tenaga kerja ke keluarga yang ada di Indonesia atau remitansi juga berkurang. 

“Yang rugi juga keluarga pekerja migran di Indonesia akibat resesi global. Ujungnya ke daya beli masyarakat khususnya di daerah asal TKI," ucapnya.

Editor : Ranto Rajagukguk