Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Serukan Boikot Produk AS, Erdogan Rupanya Suka Pakai iPhone
Advertisement . Scroll to see content

Picu Krisis Keuangan, Ini Penyebab Anjloknya Lira Turki

Senin, 13 Agustus 2018 - 19:10:00 WIB
Picu Krisis Keuangan, Ini Penyebab Anjloknya Lira Turki
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP/Ozan Kose)
Advertisement . Scroll to see content

ISTANBUL, iNews.id – Mata uang Turki, lira hari ini jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah setelah sempat tembus ₺7 per dolar Amerika Serikat (AS). Sejak awal tahun ini, nilai lira sudah anjlok lebih dari 40 persen terhadap dolar AS.

Pelemahan nilai lira sebetulnya bukan terjadi dalam beberapa hari terakhir meski kali ini yang terparah. Selama hampir separuh dekade terakhir, nilai lira sudah terdepresiasi cukup signifikan.

Pada 2014, nilai lira terhadap dolar AS masih sekitar ₺2. Dua tahun kemudian, nilai mata uang tersebut menembus level ₺3 untuk pertama kalinya menyusul peristiwa gagalnya kudeta militer terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Meningkatnya tensi hubungan antara Turki dan AS semakin memperparah mata uang Turki di tengah menguatnya dolar AS akibat membaiknya ekonomi Negeri Paman Sam. Belum lagi, pasar juga khawatir dengan langkah Erdogan yang kerap mengintervensi bank sentral Turki.

Idealnya, arah kebijakan bank sentral negara-negara emerging market mulai melakukan pengetatan moneter di tengah keluarnya dana asing ke AS. Namun, Erdogan tidak suka dengan kenaikan suku bunga meski inflasi bergerak naik dan lira tertekan.

“Cengkeraman kuat Erdogan terhadap bank sentral dan pernyataan suku bunga tinggi tidak sesuai dengan strategi ekonomi Turki berarti bank sentral harus terus menahan suku bunganya,” kata Ekonom ABN Amro, Nora Neuteboom, dikutip dari AFP, Senin (13/6/2018).

Dia menilai, Erdogan ingin mendorong ekonomi terus tumbuh tinggi supaya daya beli masyarakat bisa naik. Namun, mantan Wali Kota Istanbul itu menghiraukan faktor eksternal yang tidak kondusif.

Pelaku pasar tampaknya kehilangan kepercayaan diri untuk berinvestasi di negara yang wilayahnya terbelah di antara Asia dan Eropa itu. Pasalnya, perubahan sistem politik dari parlementer menjadi presidensial membuat posisi Erdogan yang baru terpilih kembali menjadi Presiden pada Juni 2018 semakin kuat.

Erdogan langsung menunjuk menantunya, Berat Albayrak sebagai Menteri Keuangan. Selain itu, posisi perdana menteri yang dihapus akibat perubahan sistem politik membuat Erdogan lebih leluasa dalam menjalankan kebijakan. Pasalnya, Binali Yildirim yang sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri Turki dikenal selalu mendesak Erdogan untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan kebijakan ekonomi.

Penangkapan pastor asal AS, Andrew Brunson karena diduga terlibat dalam kudeta 2016 ikut memancing AS untuk bertindak. Presiden AS Donald Trump bereaksi dengan menerapkan tarif impor dua kali lipat untuk baja dan aluminium dari Turki. Akibatnya, nilai lira semakin jatuh.

Erdogan pun lantas menuding ada skenario politik terkait anjloknya lira terhadap dolar AS dengan merujuk pada Amerika. Presiden dari Partai Islam ini memilih untuk melawan AS dengan mengancam membawa Turki keluar dari NATO. Selain itu, dia juga tetap mengecam kenaikan suku bunga karena dinilai menjadi alat eksploitasi yang melanggengkan ketimpangan antara orang kaya dan orang miskin.

Anjloknya lira berpotensi membuat negara tersebut mengalami krisis mata uang yang akan merembet pada krisis keuangan. Yang pertama kali terkena adalah perbankan Turki. Modal perbankan diprediksi akan tergerus jika lira terus melemah karena sepertiga pinjaman perbankan berdenominasi valuta asing. 

Editor: Rahmat Fiansyah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut