RAPBN 2023 Didesain Mampu Bertahan Hadapi Guncangan Ekonomi Global

Michelle Natalia ยท Selasa, 09 Agustus 2022 - 12:30:00 WIB
RAPBN 2023 Didesain Mampu Bertahan Hadapi Guncangan Ekonomi Global
Menkeu Sri Mulyani sebut RAPBN 2023 didesain mampu bertahan hadapi guncangan ekonomi global. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah menyiapkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 yang mampu bertahan di tengah guncangan ekonomi global dan gejolak ketidakpastian yang sangat tinggi. Hal ini dilatarbelakangi permintaan Presiden Joko Widodo alias Jokowi untuk menjaga APBN supaya tetap kredibel, berkelanjutan, dan sehat. 

Adapun RAPBN 2023 tersebut nantinya akan diserahkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 16 Agustus 2022.

“Jadi ini adalah arahan terakhir dari Bapak Presiden sebelum kita memfinalkan,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam keterangannya, selepas mengikuti SKP yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Negara, dikutip Selasa(9/8/2022).

Dia mengatakan, dalam SKP tersebut dibahas desain RAPBN Tahun 2023 dalam situasi, di mana perekonomian global sedang gelap karena mengalami guncangan dan gejolak, serta adanya ketidakpastian yang sangat tinggi. Karena itu, dia mengungkapkan, APBN 2023 akan dirancang agar mampu menjaga fleksibilitas dalam mengelola gejolak perekonomian dan ketidakpastian global yang terjadi.

“Ini kita sering menyebutkan sebagai shock absorber. Namun, di sisi lain Bapak Presiden juga meminta agar APBN tetap dijaga supaya tetap kredibel dan sustainable atau sehat, sehingga ini adalah kombinasi yang harus dijaga,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dunia pada tahun ini diproyeksikan mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi, sementara inflasinya meningkat. Hal ini didukung dengan Dana Moneter Internasional (IMF) yang telah menurunkan proyeksi ekonomi global dari 3,6 persen menjadi 3,2 persen untuk tahun ini dan dari 3,6 persen menjadi 2,9 persen untuk tahun depan.

“Ini artinya bahwa lingkungan global kita akan menjadi melemah, sementara tekanan inflasi justru meningkat. Menurut IMF, tahun ini inflasi akan naik ke 6,6 persen dari sisi di negara maju, sementara inflasi di negara-negara berkembang akan pada level 9,5 persen,” ucapnya.

Sri Mulyani juga menyampaikan arahan Presiden Jokowi terkait defisit APBN 2023 harus di bawah 3 persen untuk menjaga sisi sustainabilitasnya. Untuk itu dari sisi belanja negara, dia menyebut akan tetap mendukung berbagai prioritas nasional, yakni pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama, kemudian pembangunan infrastruktur termasuk Ibu Kota Nusantara, serta penyelenggaraan pemilu.

“Kita akan menggunakan instrumen belanja pusat dan daerah untuk bisa mendukung berbagai program-program prioritas nasional dan juga dari sisi pembiayaan seperti akumulasi dari Dana Abadi Pendidikan yang akan terus dikelola sebagai juga warisan untuk generasi yang akan datang, maupun sebagai mekanisme untuk shock absorber,” tuturnya.

Sementara dari sisi pendapatan negara, dia mengatakan, yang menjadi perhatian, yaitu penerimaan pajak dari komoditas yang sangat tinggi mungkin tidak akan terulang pada tahun depan. 

"Demikian halnya dengan penerimaan bea cukai," kata dia.

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda