Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp17.997 per Dolar AS, Ini Pendorongnya
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.037 Pagi Ini!

Selasa, 04 Agustus 2026 - 10:46:00 WIB
Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.037 Pagi Ini!
Ilustrasi rupiah melemah terhadap dolar AS pada Selasa (4/8/2026). (Foto: iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah melemah 0,22 persen ke level Rp18.037 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga pukul 10.08 WIB pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Sebelumnya, rupiah dibuka di posisi Rp18.026 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Yen Jepang menjadi mata uang yang mengalami pelemahan terdalam, yakni 0,32 persen, disusul baht Thailand yang turun 0,13 persen.

Yuan China dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,05 persen. Sementara itu, peso Filipina dan dolar Singapura terdepresiasi 0,04 persen.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih mampu menguat terhadap dolar AS. Won Korea memimpin penguatan sebesar 0,31 persen, diikuti dolar Taiwan yang naik 0,09 persen dan rupee India menguat 0,06 persen. Dolar Hong Kong tercatat bergerak stagnan.Pergerakan mata uang Asia turut dipengaruhi penguatan indeks dolar AS (DXY). 

Pada pukul 09.00 WIB, DXY naik 0,11 persen ke level 100,001.Penguatan tersebut membawa DXY kembali berada di atas level psikologis 100 setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dalam satu setengah bulan terakhir.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar masih mencermati prospek kebijakan The Federal Reserve (The Fed) serta data ketenagakerjaan AS. Investor juga bersikap hati-hati setelah tiga pejabat The Fed yang sebelumnya berbeda pandangan dalam rapat kebijakan pekan lalu kembali menegaskan pada Jumat bahwa inflasi masih berada di level terlalu tinggi.

"Mereka berpendapat bahwa kenaikan suku bunga segera diperlukan demi menjaga kredibilitas bank sentral dalam upaya pengendalian inflasi," kata Ibrahim dalam risetnya, Senin (4/8/2026).

Dari dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk fase ekspansi pada Juli 2026 setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Meski demikian, pemulihan sektor industri dinilai masih berjalan bertahap. Kenaikan biaya bahan baku, melemahnya permintaan ekspor, serta sikap hati-hati pelaku usaha dalam pembelian bahan baku masih menjadi faktor yang membatasi pertumbuhan.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan hingga penutupan perdagangan hari ini.Dia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.990 hingga Rp18.040 per dolar AS.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut