Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Konflik AS-Iran Makin Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Tembus 100 Dolar AS per Barel
Advertisement . Scroll to see content

Konflik AS-Iran Mereda, Pengamat: Bisa Jadi Hanya Jeda Sebelum Perang Besar

Senin, 27 Juli 2026 - 11:21:00 WIB
Konflik AS-Iran Mereda, Pengamat: Bisa Jadi Hanya Jeda Sebelum Perang Besar
Pengamat menilai jeda serangan AS-Iran belum menandakan damai. Konflik dinilai masih berpotensi memanas, bergantung hasil diplomasi dan langkah Trump. Foto iNews TV
Advertisement . Scroll to see content

Dia menilai fokus konflik saat ini telah bergeser. Jika pada fase awal target Amerika Serikat disebut-sebut mendorong perubahan rezim di Iran, kini perhatian lebih diarahkan pada upaya membuka kembali aktivitas normal di Selat Hormuz.

"Perang babak kedua ini lebih spesifik, yaitu menormalisasi Selat Hormuz. Justru ini menunjukkan adanya kegagalan taktik Amerika karena target pergantian rezim tidak tercapai, sementara Iran berhasil menjadikan Selat Hormuz sebagai kartu tekan," ujarnya.

Selain Hormuz, Hasibullah melihat meningkatnya aktivitas kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb menjadi faktor lain yang membuat Washington memilih menahan eskalasi. Menurutnya, jika konflik meluas ke jalur pelayaran tersebut, dampaknya terhadap stabilitas kawasan akan jauh lebih besar.

Ia juga menyoroti dinamika hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya di NATO. Menurutnya, Presiden Donald Trump masih berupaya menguji sejauh mana dukungan negara-negara Barat terhadap operasi militer di Timur Tengah.

"Kalau dibaca sampai sekarang, dukungan NATO belum benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. Ini menjadi salah satu pertimbangan bagi Amerika dalam menentukan langkah berikutnya," katanya.

Hasibullah menilai Iran sejauh ini mampu menjaga keseimbangan kekuatan dengan Amerika Serikat. Dalam analoginya, konflik masih berada pada fase "imbang", sehingga Washington belum mampu mencapai tujuan strategisnya secara penuh.

"Iran tetap berusaha tampil sebagai pihak yang defensif. Ketika Amerika menghentikan serangan, Iran juga menahan serangannya. Ini menunjukkan mereka tidak ingin menjadi pihak yang memulai eskalasi," ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan peluang pecahnya perang yang lebih besar masih terbuka apabila konflik di Timur Tengah mulai terhubung dengan perang Rusia-Ukraina maupun meningkatnya ketegangan di kawasan Laut Merah.

Menurut Hasibullah, sejumlah aktor internasional yang terlibat dalam dua konflik tersebut memiliki keterkaitan kepentingan, sehingga potensi meluasnya perang tidak bisa diabaikan.

Hasibullah memprediksi masa jeda ini kemungkinan hanya berlangsung beberapa hari. Salah satu faktor yang akan menentukan arah konflik adalah pertemuan Presiden Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada pekan ini.

Selain itu, rencana Inggris membentuk koalisi internasional untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz juga dinilai akan sangat memengaruhi apakah konflik bergerak menuju perdamaian atau justru memasuki babak baru yang lebih besar.

"Kalau koalisi internasional itu benar-benar terbentuk, bukan tidak mungkin eskalasi akan kembali meningkat. Sebaliknya, jika jalur diplomasi berhasil, peluang deeskalasi juga terbuka," kata Hasibullah. 

Editor: Suriya Mohamad Said

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut