Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Profil dan Biodata Pidi Baiq, Penulis yang Akan Rilis Novel dan Film Dilan 1983: Wo Ai Ni
Advertisement . Scroll to see content

Setelah Sukses Dilan 1990, Pidi Baiq Garap Film Koboy Kampus

Selasa, 15 Mei 2018 - 22:10:00 WIB
Setelah Sukses Dilan 1990, Pidi Baiq Garap Film Koboy Kampus
Pidi Baiq bersama tims memperkenalkan film baru Koboy Kampus: Understanding The Panasdalam. (Foto: iNews.id/Yogi Pasha)
Advertisement . Scroll to see content

BANDUNG, iNews.id - Langkah Pidi Baiq di dunia perfilman Indonesia semakin leluasa. Setelah sukses dengan Dilan 1990, Pidi Baiq akan membuat film berjudul Koboy Kampus: Understanding the Panasdalam.

Film ini akan dia tulis dan sutradarai sendiri bersama 69 Production dan Bianglala Production. Film dengan seting 1995-1998 itu, tengah masuk tahap praproduksi dan direncanakan mulai syuting awal Juli 2018.

Pidi mengatakan, Koboy Kampus merupakan film yang menceritakan awal mula perjalanan The Panasdalam. Selama ini The Panasdalam dikenal sebagai grup band. Sementara di film akan dikisahkan tentang cikal bakal The Panasdalam terbentuk sebagai negara.

Pidi menyebutkan, kisah The Panasdalam sebetulnya pernah dibuat film dokumenternya pada 2013. Ketika itu, seorang pembuat film dokumenter dari Jepang membuat kisah The Panasdalam bersama Tubagus Deddy.

Namun, film dokumenter itu tidak pernah tayang. Alhasil untuk Koboy Kampus, Pidi mengajak Deddy untuk menulis skenario dan melanjutkan kisah dari film dokumenter yang telah digarap.

Selain Deddy, Pidi juga diskusi dengan Erwin Koboy, vokalis The Panasdalam dan Gagan Ninu, sahabatnya yang turut mendirikan negara The Panasdalam.

"Idenya bermula dari mendirikan negara The Panasdalam yang akhirnya jadi band. Pada 1995, saya mendirikan negara The Panasdalam di ITB bersama Gagan Ninu. Ketika itu kami menjadi negara dengan jumlah penduduk 18 orang. Saya mengangkat diri sebagai imam besar, sedangkan presidennya Deni Rodendo. Sementara Ninu menjadi dewan syuro," tutur Pidi saat konferensi pers di Kantin Nation The Panasdalam Jalan Ambon Kota Bandung, belum lama ini.

Menurut Pidi, fase kuliahnya di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1995 sampai 1998 paling menarik dan banyak cerita. Ketika itu, Orde Baru masih berkuasa. Pidi mengaku tidak memiliki tendensi apa-apa terhadap rezim Orde Baru. Saat banyak demo terjadi, Pidi berpikir, buat apa demo. Daripada hanya demo dan kritik, kata Pidi, lebih baik bikin negara sendiri saja.

"Cerita filmnya akan berakhir pada 1998 saat Soeharto turun, karena The Panasdalam gabung lagi dengan NKRI. Pada 2000, barulah jadi band bersama Erwin dan lain-lain. Sejak jadi band, kami selalu menolak masuk televisi karena kami lebih ingin masuk surga," ujar Pidi.

Pidi mengatakan, film Koboy Kampus dikemas dengan berbagai genre kisah. Selain komedi, Pidi juga menyisipkan kisah cinta dan dinamika kehidupan mahasiswa era 1990-an. Kisah yang Pidi tulis juga berkaitan dengan lagu-lagu yang dimainkan band The Panasdalam.

Produser pelaksana Koboy Kampus, Sekar Ayu Asmara dari Bianglala Production mengungkapkan, secara materi, kisah Koboy Kampus sungguh luar biasa. Menurut Sekar, cerita Pidi dan The Panasdalam bukan hanya menjadi aset Kota Bandung. Akan tetapi, bisa merangkul semua kalangan penonton di luar Bandung.

"Keterlibatan Pidi di film ini sebagai sutradara dan penulis karena kami ingin ciri Pidi sebagai seniman bisa hadir di film ini. Kami membantu Pidi agar cerita bisa divisualkan," kata Sekar yang dikenal sebagai sutradara Biola Tak Berdawai (2003), Belahan Jiwa (2003), dan Pesan Dari Surga (2006).

Sekar mengatakan, saat ini tim produksi masih melakukan casting. Tahap ini menjadi bagian paling sulit dan menantang karena karakter yang ditulis Pidi unik-unik.

Sekar berharap, film Koboy Kampus memberikan tontonan yang berbeda dan menjadi karya yang abadi.

"Selain jumlah penonton, yang paling penting adalah penonton puas dengan hasil filmnya," ujar Sekar.

Film Koboy Kampus: Understanding The Panasdalam adalah cerita nyata yang terjadi antara 1995 sampai 1998. Ketika itu, pemerintahan Orde Baru sedang digoyang gerakan mahasiswa yang menuntut terjadinya reformasi.

Di saat yang sama, terdapat lima orang mahasiswa seni rupa ITB yang memiliki cara lain untuk menyikapi situasi dan keadaan Indonesia di masa itu. Ketimbang ikut-ikutan demo, mereka memilih memisahkan diri dari NKRI dan mendirikan sebuah negara sendiri berukuran 8 meter x 10 meter di lantai dua gedung FSRD-ITB. Namanya Negara Kesatuan Republik The Panasdalam. Penduduknya sebanyak 18 orang yang tak lain adalah kawan-kawan mereka sendiri.

Negara ini dibentuk Pidi Baiq yang kemudian mengangkat dirinya sendiri sebagai imam besar The Panasdalam. Imam besar The Panasdalam memiliki hak penuh dalam memilih dan menentukan presiden. Presiden yang terpilh saat itu adalah Deni Rodendo. Alasan imam besar memilih Deni karena dianggap satu-satunya presiden di dunia yang hapal nama penduduknya. Itu prestasi.

Imam besar juga membentuk dewan syuro untuk menjadi mitra dalam menentukan arah kebijakan negara The Panasdalam. Ketua dewan syuro yang diangkat imam besar saat itu adalah Ninu. Alasan memilih Ninu karena mau menjadi ketua dewan syuro.

Tahun 1998 setelah Soeharto lengser, imam besar memprakarsai diadakannya Muktamar The Panasdalam yang diadakan di Dago Tea Huis. Tujuan muktamar untuk menentukan apakah setelah Soeharto turun, The Panasdalam tetap menjadi negara atau bergabung lagi dengan NKRI?

Editor: Tuty Ocktaviany

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut