9 Fakta Avigan, Obat Flu Buatan Jepang yang Diyakini Sembuhkan Korona

Felldy Utama ยท Sabtu, 21 Maret 2020 - 05:00 WIB
9 Fakta Avigan, Obat Flu Buatan Jepang yang Diyakini Sembuhkan Korona

Obat anti-influenza buatan Fujifilm Toyama Chemical Jepang Avigan. (Foto: Nikkei/Reuters).

JAKARTA, iNews.id – Nama Avigan menjadi angin segar di tengah wabah virus korona (Covid-19) yang mengguncang dunia. Obat anti-influenza produksi Jepang itu diyakini dapat menyembuhkan pasien yang positif terjangkit virus mematikan tersebut.

Pejabat Kementerian Sains dan Teknologi China, Zhang Xinmin, mengatakan, Avigan telah diuji klinis terhadap 340 pasien korona di Kota Wuhan dan Shenzen. Hasilnya, memuaskan. Menurut dia, ada tanda-tanda kesembuhan bagi pasien Covid-19.

"Ini memiliki tingkat keamanan tinggi dan jelas efektif untuk perawatan," kata Zhang dikutip NHK, seperti dilaporkan kembali The Guardian, Jumat (20/3/2020).

Avigan merupakan obat virus antiinfluenza yang dikembangkan Toyama Chemical Co, anak perusahaan Fujifilm Holdings, Jepang. Jauh sebelum kasus korona merebak, Avigan pernah digunakan untuk mengobatan pasien positif Ebola, virus yang merebak di Afrika.

Berikut fakta-fakta Avigan:

1. Obat Anti-Influenza.
Avigan merupakan obat anti-influenza. Nama lengkap produk ini yaitu AVIGAN® Tablet 200mg, sedangkan nama generiknya adalah Favipiravir.

Mengutip laporan Nikkei bertajuk “What kind of drugs are the new corona promising drugs 'Avigan' and 'Remdecivir'?”, Avigan ditujukan untuk mengatasi wabah influenza jika wabah strain virus influenza tidak mempan dengan obat anti influenza biasa (dijual bebas) yang ada saat ini, yaitu tamiflu (oseltamivir).

Menurut dr Kathryn Effendi, WNI di Jepang, mekanisme kerja Avigan yang berbeda dengan obat anti-influenza umumnya diharapkan bisa jadi senjata yang efektif saat obat lain tidak bisa digunakan.

2. Diproduksi 2014.
Avigan dikembangkan oleh Toyama Chemical Co, anak perusahaan Fujifilm Holdings, Jepang dan diproduksi mulai 2014. Obat ini dibuat secara khusus untuk mengobati virus RNA (Ribonucleic acid) atau asam ribonukleat.

Menurut Nikkei, Avigan bekerja sebagai penghambat RNA polimerase yaitu enzim yang dapat membangun RNA. Ketika enzim itu dilumpuhkan, virus tidak dapat mereplikasi atau menggandakan dirinya dari sel induk.

3. Obat Keras, Tidak Dijual bebas.
Jangan harap menemukan Avigan di pasaran. Obat ini tidak dijual bebas. Avigan termasuk obat keras yang peruntukannya sangat terbatas dan ketat alias harus dengan resep dokter. Karena bukan obat bebas, tidak diketahui harga pasar.

4. Di Bawah Kendali Pemerintah Jepang.
Avigan tidak sembarangan diproduksi dan diedarkan. Obat ini hanya boleh dibuat berdasarkan persetujuan pemerintah Jepang. Termasuk untuk pengobatan virus korona ini, penggunaan Avigan membutuhkan persetujuan penuh dari pemerintah.

Fujifilm Holdings menyatakan Pemerintah Jepang telah meminta studi tentang peningkatan produksi Avigan. Kendati demikian, seorang pejabat kesehatan mengatakan kepada Mainichi bahwa obat itu dapat disetujui pada awal Mei. "Tetapi jika hasil penelitian klinis tertunda, persetujuan juga bisa ditunda."

5. Obati Pasien Ebola.
Pada 2016, Pemerintah Jepang pernah memasok favipiravir sebagai bantuan darurat untuk menghadapi wabah virus Ebola di Guinea. Obat ini dinyatakan efektif mendorong kesembuhan pasien. Otoritas kesehatan Prancis yang turut memantau penggunaan obat ini menyebut angka kematian turun.

“Hasilnya menggembirakan. Mereka menunjukkan penurunan jumlah kematian pada orang dewasa dan remaja. Proses pemulihan dipercepat, " bunyi otoritas Prancis setelah dia bertemu dokter yang bekerja menangani Ebola.

6. Sembuhkan STFS.
Tidak hanya Ebola, Avigan juga diklaim dapat menyembuhkan demam berat dengan sindrom trombositopenia atau STFS. Virus yang dibawa kutu hewan ini pernah merebak di China, Korea dan Jepang pada 2013 silam.

7. Diyakini Sembuhkan Korona.
Hasil tes terhadap pasien positif korona yang diberi favipiravir di Shenzhen, lanjut dia, berubah menjadi negatif setelah 4 hari. Sementara pasien terinfeksi yang tak diberi obat membutuhkan waktu rata-rata 11 hari sehingga menjadi negatif.

Hasil pemeriksaan sinar-x juga mengonfirmasi peningkatan kondisi paru-paru terhadap sekitar 91 persen pasien pengguna favipiravir, dibandingkan dengan 62 persen mereka yang tidak menggunakan obat.

8. Bahaya untuk Janin.
Kendati dianggap dapat menyembuhkan pasien positif korona, sumber di Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan, obat ini tidak efektif digunakan pada orang dengan gejala parah.

"Kami telah memberi Avigan kepada 70 hingga 80 orang, tapi tampaknya tidak berfungsi dengan baik ketika virus sudah berlipat ganda," kata sumber, kepada surat kabar Mainichi Shimbun. Tidak hanya itu, Fujifilm juga telah mengonfirmasi obat ini tidak untuk perempuan hamil karena berisiko bagi janin.

9. Jokowi Pesan 2 Juta Pil.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa pemerintah akan mendatangkan beberapa obat untuk menyembuhkan pasien korona. Obat itu yakni Avigan dan Chloroquin.

Untuk Avigan telah didatangkan 5.000 butir dan saat ini dalam proses pemesanan 2 juta pil. Adapun Chloroquin disiapkan 3 juta. Namun tidak disebutkan dari negara mana obat tersebut dipesan.


Editor : Zen Teguh