Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Hemat Energi, Bangladesh Pangkas Jam Kerja hingga Batasi Dekorasi Pernikahan
Advertisement . Scroll to see content

Aktivitas Melebihi Jam Kerja, Ini Efek yang Akan Anda Alami

Rabu, 24 Januari 2018 - 22:34:00 WIB
Aktivitas Melebihi Jam Kerja, Ini Efek yang Akan Anda Alami
Banyak penelitian mengungkapkan, bekerja di luar jam kerja bahkan hanya mengecek e-mail dapat membuat Anda terkena stres jangka panjang. (Foto: Ilustrasi)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Bekerja tanpa henti sangat erat kaitannya dengan tingkat stres tinggi hingga gangguan kesehatan fisik kronis. Seperti kita ketahui, tingkat stres sangat mempengaruhi kesehatan fisik Anda dan penyakit, seperti jantung, stroke dan kanker.

Apalagi di era teknologi seperti sekarang yang memungkinkan kita bekerja seharian tanpa henti melalui hubungan daring, internet, atau smartphone. Buktinya pada 2002, kurang dari 10 persen karyawan memeriksa e-mail di luar jam kerja. Kini, persentase meningkat menjadi 50 persen.

Mengecek e-mail di luar kerja memang tampak sepele. Tapi, tahukah Anda jika dampaknya tak sesepele dengan yang terlihat.

Banyak penelitian mengungkapkan, bekerja di luar jam kerja bahkan hanya mengecek e-mail dapat membuat Anda terkena stres jangka panjang, kegelisahan, hingga kurang beraktivitas. Itulah faktor-faktor yang menyebabkan kematian dini.

Hal ini berdasarkan tulisan Peter Fleming, profesor bisnis dan masyarakat di University of London sekaligus penulis How Capitalism Persists Despite Itself. Tulisan Fleming yang dikutip dari The Guardian, Rabu (24/1/2018) mengungkapkan, periset di University College London yang mensurvei 85.000 pekerja pria dan wanita paruh baya menemukan adanya korelasi antara kerja paksa dan masalah kesehatan di bagian kardiovaskular. Di antaranya, denyut jantung tak teratur atau fibrilasi atrium hingga peningkatan risiko stroke lima kali lipat.

Dia juga menulis terkait serikat pekerja setempat yang mulai mengkhawatirkan kesehatan para buruh atau karyawan tentang dampak kerja berlebihan terhadap hubungan dan kesehatan fisik serta mental. "Ini bukan soal gaji, tetapi juga perlindungan diri. Mereka (pekerja) tidak ingin meninggal sebelum waktunya," tulis Fleming.

Sebab, menurut penelitian dari Australian National University, baru-baru ini, menemukan bahwa bekerja selama lebih dari 39 jam seminggu berpotensi meningkatkan risiko berkurangnya kesejahteraan hidup dari segi kesehatan.

Sementara itu, temuan periset di Columbia University Medical Center menggunakan pelacak aktivitas untuk memantau 8.000 pekerja berusia di atas 45 tahun, ditemukan periode rata-rata pekerja tak beraktivitas setiap hari adalah 12,3 jam.

Karyawan yang tidak beraktivitas selama lebih dari 13 jam sehari, dua kali lebih mungkin meninggal prematur daripada mereka yang tidak aktif selama 11,5 jam.

"Saya mengaitkan ini dengan duduk di kantor selama berjam-jam dan menyimpulkan bahwa duduk di kantor dalam waktu lama memiliki efek yang sama dengan merokok," tulisnya.

Lalu, bagaimana kerja sehat yang dapat diterima dan manusiawi? Peneliti dari Amerika Serikat Alex Soojung-Kim Pang mengatakan, kebanyakan karyawan modern dapat produktif selama empat jam sehari. Namun, Pang berpendapat, jam kerja dapat diatur kembali tanpa mengurangi standar hidup atau kemakmuran karyawan.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut