Anak Masuk Sekolah Lagi, Dokter Ingatkan Ancaman DBD Ikut Mengintai
JAKARTA, iNews.id - Memasuki tahun ajaran baru, orang tua biasanya sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan sekolah anak, mulai dari seragam, buku hingga perlengkapan belajar. Namun, di balik semangat kembali ke ruang kelas, ada ancaman kesehatan yang juga perlu mendapat perhatian, yakni demam berdarah dengue (DBD).
Risiko penularan DBD tidak hanya terjadi di rumah, tetapi juga di lingkungan sekolah. Anak-anak menghabiskan banyak waktu untuk belajar, bermain, berolahraga, hingga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang membuat peluang terpapar gigitan nyamuk Aedes aegypti semakin besar.
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) periode 2018-2025 menunjukkan kelompok usia 5-14 tahun secara konsisten menjadi kelompok dengan proporsi kematian akibat dengue tertinggi. Pada 2025 bahkan sebanyak 59 persen kematian akibat DBD terjadi pada anak usia 0-14 tahun.
Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qothi, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya muncul saat musim hujan. Padahal, virus dengue dapat mengancam kapan saja.
"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat," kata dr Ikhsan dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
"Pada musim kemarau pun tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin," tambahnya.
Menurutnya, ketika anak kembali beraktivitas di sekolah, kewaspadaan harus semakin ditingkatkan. Pasalnya, nyamuk penyebab DBD aktif pada pagi hingga sore hari, bertepatan dengan jam sekolah.
Ia menjelaskan, perlindungan anak tidak cukup hanya dilakukan di rumah. Lingkungan sekolah juga memiliki peran penting dalam memutus rantai penularan.
Sekolah dapat secara rutin memeriksa adanya genangan air, melakukan pemantauan jentik, serta mengajak seluruh warga sekolah menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta langkah perlindungan tambahan lainnya.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, orang tua juga dianjurkan membiasakan anak menggunakan pakaian yang dapat melindungi tubuh saat diperlukan serta memakai losion antinyamuk ketika beraktivitas di area yang berisiko.
Dokter Ikhsan juga mengingatkan bahwa hingga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan infeksi dengue. Karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling penting.
"Perlindungan dari DBD tidak cukup hanya dengan satu cara. Penerapan 3M Plus tetap perlu dilakukan secara konsisten. Selain itu, vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dengue yang komprehensif. Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak telah memenuhi syarat untuk mendapat vaksin dengue," katanya.
Menurutnya, kesadaran keluarga dan sekolah menjadi kunci agar anak dapat menjalani aktivitas belajar dengan aman tanpa terganggu ancaman DBD.
Lebih lanjut, Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menilai perlindungan anak dari DBD tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga. Menurutnya, ketika seorang anak terserang DBD, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga seluruh anggota keluarga.
"Sebagai orang tua, saya memahami betapa beratnya melihat anak sakit dan tidak dapat menjalani kesehariannya seperti biasa. Ketika seorang anak terkena DBD, seluruh keluarga ikut terdampak. Orang tua mungkin harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak, aktivitas keluarga terganggu, dan muncul biaya yang tidak terduga," ujar Andreas.
Ia mengatakan, perlindungan terhadap anak perlu menjadi tanggung jawab bersama. Selain keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam menekan penularan dengue melalui edukasi dan penerapan langkah-langkah pencegahan secara konsisten.
"Perlindungan perlu dimulai dari keluarga, dengan orang tua mengambil peran penting dalam membangun kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten. Namun, tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan kepada keluarga saja. Upaya tersebut perlu diperkuat oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya," katanya.
Editor: Muhammad Sukardi