Apa Itu Grooming? Kondisi Dialami Aktris Aurelie Moeremans sejak Usia Remaja
Tahap berikutnya adalah menciptakan ikatan emosional, di mana korban dibuat merasa spesial dan bergantung secara perasaan kepada pelaku. Perlahan, pelaku mulai menormalisasi perilaku tidak pantas dengan menyisipkan pembicaraan, gambar, atau permintaan bernuansa seksual. Jika proses ini berhasil, eksploitasi pun terjadi, baik dalam bentuk pemaksaan, ancaman, maupun pemerasan secara online atau offline.
Dampak grooming tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sangat serius secara psikologis. Korban dapat mengalami trauma berkepanjangan, depresi, kecemasan, serta perasaan bersalah dan malu, meskipun mereka sama sekali bukan pihak yang bersalah.
Dalam kasus yang lebih berat, grooming dapat memicu gangguan stres pascatrauma atau PTSD, menurunkan rasa percaya diri, serta membuat korban sulit mempercayai orang lain. Kondisi ini berpotensi mengganggu kehidupan sehari-hari apabila tidak mendapatkan penanganan profesional.
Secara emosional, korban grooming juga kerap mengalami kebingungan. Rasa disayangi yang sengaja dibangun pelaku membuat korban sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Karena itu, dukungan dan pencegahan menjadi hal krusial. Korban grooming membutuhkan lingkungan yang aman, dukungan keluarga, serta bantuan tenaga profesional. Sementara upaya pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi, pengawasan bijak terhadap aktivitas digital, dan komunikasi terbuka antara anak dan orang dewasa agar risiko grooming dapat diminimalkan sejak dini.
Editor: Dani M Dahwilani