Benarkah Konsumsi Vitamin C Setiap Hari Bisa Picu Batu Ginjal? Ini Penjelasannya
JAKARTA, iNews.id - Konsumsi vitamin C setiap hari kerap dianggap aman karena nutrisi ini memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Namun, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, vitamin C berpotensi meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal pada orang-orang tertentu.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Aditya Surya Pratama, menjelaskan vitamin C memang dapat meningkatkan risiko batu ginjal, tetapi efek tersebut tidak terjadi secara otomatis pada setiap orang yang mengonsumsinya setiap hari.
“Jadi jawabannya, iya, tapi enggak mutlak,” kata dr Aditya dalam unggahan video di akun Instagramnya, dikutip Kamis (15/10/2026).
Dia menjelaskan, vitamin C yang masuk ke dalam tubuh akan melalui proses metabolisme. Sebagian vitamin tersebut dapat diubah menjadi oksalat, senyawa yang berperan dalam pembentukan batu ginjal jenis kalsium oksalat.
Jika kadar oksalat dalam urine meningkat, risiko pembentukan kristal kalsium oksalat juga dapat bertambah. Kondisi ini terutama perlu diperhatikan pada orang yang mengonsumsi vitamin C dalam dosis sangat tinggi atau memiliki faktor risiko batu ginjal.
“Kalau kita bicara skemanya nih. Jadi ketika kita konsumsi vitamin C, misalnya dalam jumlah yang banyak setiap hari, itu sebagian dia akan dimetabolisme menjadi oksalat. Nah, urinary oxalate ini akhirnya akan meningkat dan secara biologis, ini dapat meningkatkan supersaturasi kalsium oksalat, yang mana inilah yang akhirnya berpotensi meningkatkan pembentukan batu ginjal, terutama pada dosis yang sangat tinggi dan orang-orang yang memang dia ini berisiko,” katanya.
Meski demikian, konsumsi vitamin C setiap hari tidak serta-merta menyebabkan batu ginjal. Risiko tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari dosis yang dikonsumsi, jenis kelamin, riwayat batu ginjal, hingga kecukupan cairan tubuh.
“Tapi perlu digarisbawahi, bukan berarti konsumsi vitamin C setiap hari itu otomatis menyebabkan batu ginjal. Jangan salah paham ya. Karena sebenarnya untuk risikonya ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal: dosis, jenis kelamin, riwayat batu ginjal, hidrasi, dan faktor-faktor lainnya masih banyak sekali,” katanya.
Di sisi lain, vitamin C tetap dibutuhkan tubuh karena berperan dalam pembentukan kolagen, melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas sebagai antioksidan, mendukung fungsi sistem imun, serta membantu penyerapan zat besi.
Sebab itu, masyarakat perlu memperhatikan dosis vitamin C yang dikonsumsi, terutama jika mengandalkan suplemen berdosis tinggi. Kebutuhan vitamin C sebaiknya dipenuhi sesuai kebutuhan tubuh dan tidak berlebihan.
Bagi orang yang memiliki riwayat batu ginjal atau faktor risiko tertentu, konsultasi dengan tenaga medis sebelum mengonsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi dapat membantu menentukan pilihan yang sesuai.
dr Aditya juga menyarankan masyarakat mempertimbangkan produk vitamin C dengan kandungan atau potensi pembentukan oksalat yang lebih rendah. Namun, pemilihan suplemen tetap perlu memperhatikan dosis, komposisi, serta kondisi kesehatan masing-masing.
“Menurut aku solusinya, kamu juga bisa cari sebenarnya vitamin C yang lebih rendah kandungan oksalatnya,” ujarnya.
Editor: Dani M Dahwilani