Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kenapa Pasien Setelah Operasi Selalu Ditanya Sudah Kentut atau Belum? Ini Penjelasan Dokter
Advertisement . Scroll to see content

Berapa Kali Normalnya Manusia Kentut dalam Sehari? Ini Kata Dokter

Jumat, 06 November 2026 - 07:28:00 WIB
Berapa Kali Normalnya Manusia Kentut dalam Sehari? Ini Kata Dokter
Berapa kali normalnya manusia kentut dalam sehari? Apakah terlalu sering kentut menandakan adanya gangguan kesehatan? (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kentut merupakan proses alami tubuh untuk mengeluarkan gas dari saluran pencernaan. Meski sering dianggap memalukan atau mengganggu, kentut sebenarnya menjadi salah satu bagian penting dari aktivitas sistem pencernaan manusia.

Namun, pernahkah Anda bertanya berapa kali normalnya manusia kentut dalam sehari? Apakah terlalu sering kentut menandakan adanya gangguan kesehatan?

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan pentingnya memahami aktivitas sistem pencernaan dan kaitannya dengan keluarnya gas dari tubuh.

Secara umum, manusia bisa kentut sekitar 10-20 kali dalam sehari. Frekuensi tersebut dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada makanan yang dikonsumsi, aktivitas bakteri di usus, serta kondisi sistem pencernaan.

Gas dalam saluran pencernaan berasal dari beberapa sumber. Salah satunya adalah udara yang tertelan ketika seseorang makan, minum, berbicara, atau mengunyah permen karet.

Selain itu, gas juga terbentuk ketika bakteri di usus besar memecah karbohidrat yang tidak tercerna atau terserap sepenuhnya di usus halus. Proses tersebut menghasilkan gas yang kemudian dikeluarkan melalui anus dalam bentuk kentut.

Beberapa jenis makanan dapat meningkatkan produksi gas di dalam usus. Misalnya, kacang-kacangan, brokoli, kol, bawang, serta makanan yang mengandung karbohidrat tertentu.

Minuman bersoda juga dapat meningkatkan jumlah gas dalam saluran pencernaan. Sementara itu, sebagian orang mengalami peningkatan produksi gas setelah mengonsumsi susu akibat kesulitan mencerna laktosa.

Meski begitu, sering kentut tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan. Selama tidak disertai keluhan lain, kondisi tersebut umumnya merupakan bagian normal dari proses pencernaan.

Sebaliknya, seseorang perlu memperhatikan perubahan frekuensi kentut jika disertai gejala seperti nyeri perut berkepanjangan, perut kembung berat, diare, sembelit, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau muncul darah dalam tinja.

Kentut juga memiliki kaitan dengan pemulihan pasien setelah menjalani operasi, terutama yang menggunakan bius total. Aktivitas usus dapat melambat akibat pengaruh obat anestesi sehingga tenaga medis perlu memantau kembalinya fungsi pencernaan.

Keluarnya gas menjadi salah satu indikator bahwa usus mulai kembali bergerak. Meski demikian, dokter tidak hanya mengandalkan kentut untuk menentukan kondisi pemulihan pasien, tetapi juga mempertimbangkan pemeriksaan dan tanda klinis lainnya.

Dengan demikian, kentut bukan sekadar proses mengeluarkan gas atau sesuatu yang perlu dianggap memalukan. Frekuensi dan perubahan pola kentut dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas sistem pencernaan, terutama jika diperhatikan bersama gejala lain.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut