Corona di Indonesia Belum Reda, Kepala BKKBN: Kita Takutkan Kehamilan yang Tidak Dikehendaki

Siska Permata Sari ยท Kamis, 28 Mei 2020 - 12:39 WIB
Corona di Indonesia Belum Reda, Kepala BKKBN: Kita Takutkan Kehamilan yang Tidak Dikehendaki

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id  - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, Sp OG(K) khawatir akan tingginya angka kehamilan tak diinginkan selama masa pandemi virus corona baru (Covid-19). Hal ini terkait dengan data penurunan penggunaan alat kontrasepsi dan perkiraan angka kehamilan yang meningkat selama adanya Covid-19.

Hal tersebut dipaparkan dalam Webinar ‘Tantangan Kependudukan di Tengah Pandemi Webinar’ pada Kamis (28/5/2020). Berdasarkan data dari BKKBN, capaian peserta keluarga berencana (KB) baru dan aktif mengalami penurunan signifikan pada bulan Maret dan April. Penurunan tersebut terjadi di semua jenis alat kontrasepsi mulai dari IUD, tubektomi (MOW), vasektomi (MOP), kondom, implan, suntik dan pil.

“Memang di bulan Maret dan April ini penggunaan KB semuanya mengalami penurunan. Mulai dari yang peserta KB baru, peserta KB yang mengganti cara, hingga peserta KB ulangan,” kata Hasto.

Di lain sisi, angka kehamilan dan kelahiran di masa pandemi ini justru mengalami peningkatan, yakni sekitar 15 persen atau dalam perkiraan angka sebesar 370.000 hingga 500.000.

Namun selain angka statistik, yang tak kalah mengkhawatirkan adalah kualitas bonus demografi karena adanya kehamilan yang tidak diinginkan.

“Apa yang kita takutkan? Yaitu unwanted pregnancy atau kehamilan yang tidak dikehendaki dan ini akan berdampak pada anaknya kelak,” ujarnya.

Kehamilan tidak dikehendaki ini juga berpengaruh pada jumlah stunting, angka kematian ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB). Selain stunting, AKI dan AKB yang meningkat, kehamilan tidak dikehendaki juga memengaruhi tingkat aborsi, bayi lahir prematur, bayi dengan berat yang rendah, hingga kurangnya kasih sayang pada sang anak.

“Sehingga dampak kehamilan tidak dikehendaki ini nantinya memengaruhi kualitas bonus demografi, itu yang perlu diperhatikan,” katanya.

Editor : Tuty Ocktaviany