Cuma 43% Balita Indonesia Dapat MPASI Beragam, Ahli Gizi Buka Suara!
JAKARTA, iNews.id – Pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan orang tua ketika anak memasuki usia 6 bulan. Bukan hanya soal jumlah makanan, keberagaman menu juga berperan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.
Namun, pemenuhan makanan beragam pada balita di Indonesia masih menjadi perhatian. Ahli Gizi Tara Mutiara Ramdani mengungkapkan, hanya 43 persen balita usia 6–23 bulan di Indonesia yang mendapatkan Minimum Acceptable Diet (MAD), yakni pola makan yang memenuhi standar kecukupan dan keberagaman makanan.
Hal tersebut disampaikan Tara dalam acara media talk bertajuk 'Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal' yang diselenggarakan Forum Ngobras bersama Frisian Flag Indonesia di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut Tara, salah satu komponen yang tidak boleh dilupakan dalam menu anak adalah protein hewani. Sumber protein seperti telur, ikan, dan daging dibutuhkan untuk mendukung proses tumbuh kembang anak.
"Kita punya sumber protein nabati yang sangat baik yaitu tempe dan tahu, yang memang lebih ekonomis. Tapi jangan lupakan protein hewani yang sebenarnya lebih mudah dicerna dan diserap," ujar Tara.
Tara menjelaskan, protein hewani memiliki asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Hal tersebut membuat keberadaan protein hewani penting dalam pola makan anak, terutama ketika mereka sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.
Bagi orang tua dengan keterbatasan anggaran, pemenuhan protein hewani tidak harus selalu dilakukan dengan membeli daging. Telur dan ikan dapat menjadi alternatif yang relatif lebih ekonomis.
"Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat," jelas Tara.
Keberagaman sumber pangan tersebut seharusnya dapat menjadi peluang bagi keluarga untuk memberikan menu yang lebih bervariasi kepada anak.
Indonesia memiliki banyak pilihan bahan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan. Dengan pengaturan menu yang tepat, makanan bergizi tidak selalu harus menggunakan bahan pangan mahal.
Tara juga mengingatkan orang tua agar tidak menganggap makanan sehat selalu identik dengan bahan pangan premium.
"Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon," ungkapnya.
Menurut Tara, tahu dan tempe dapat menjadi sumber protein nabati yang ekonomis. Namun, menu anak sebaiknya tidak hanya terdiri dari satu kelompok pangan.
Keberagaman makanan menjadi penting agar anak mendapatkan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Dalam menyusun menu keluarga, Tara mengingatkan masyarakat untuk berpedoman pada prinsip gizi seimbang. Karbohidrat, protein, sayuran, dan buah perlu dikombinasikan agar asupan tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga kebutuhan zat gizi lainnya.
Di kesempatan yang sama, Tara menekankan bahwa orang tua sebaiknya tidak hanya melihat apakah anak sudah kenyang setelah makan. Kandungan gizi dalam makanan juga harus menjadi pertimbangan.
"Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya? Jangan asal kenyang tapi minim gizi," tandasnya.
Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menyediakan makanan bergizi. Orang tua dapat memanfaatkan bahan pangan lokal yang lebih terjangkau dan mengombinasikannya dengan sumber protein, sayuran, serta buah.
Tara juga mengingatkan orang tua agar tidak merasa bersalah jika sesekali memberikan makanan olahan atau membeli makanan dari luar rumah.
"Beli makanan di warteg pun bisa kok mendapatkan gizi yang baik. Atau misalnya kita goreng sosis untuk lauk, maka tambahkan sayur yang lebih beragam, jadi asupan gizi tetap optimal," ucapnya.
Dengan demikian, yang menjadi perhatian bukan semata-mata apakah sebuah makanan mahal atau murah, tetapi bagaimana makanan tersebut dikombinasikan agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
Pemberian MPASI yang beragam menjadi penting karena kebutuhan nutrisi anak tidak dapat dipenuhi hanya dari satu jenis makanan. Orang tua perlu mengenalkan berbagai sumber pangan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan makan anak.
Telur dan ikan, misalnya, dapat menjadi pilihan protein hewani yang lebih ekonomis. Sementara tahu dan tempe dapat melengkapi kebutuhan protein dari sumber nabati.
Di sisi lain, keberagaman sumber karbohidrat juga dapat diperkenalkan. Tara menyebut Indonesia memiliki banyak pangan lokal, mulai dari umbi-umbian hingga beragam jenis beras.
"Kita punya banyak sekali pangan lokal dari umbi-umbian. Contohnya kimpul, yang sekarang sedang ngetren. Beras juga beraneka warna, jadi jangan nasi putih terus," ujarnya.
Menurut Tara, pemanfaatan pangan lokal dapat menjadi salah satu strategi keluarga untuk mendapatkan menu beragam tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Pada akhirnya, pemenuhan nutrisi anak tidak semata-mata ditentukan oleh mahal atau murahnya bahan pangan. Yang lebih penting adalah keberagaman, keseimbangan, dan kemampuan orang tua menyusun menu sesuai kebutuhan anak.
Editor: Muhammad Sukardi