Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kasus DBD Naik 3 Kali Lipat, Biaya Pengobatan Tembus Rp3 Triliun!
Advertisement . Scroll to see content

DBD Berbahaya untuk Dewasa, Bukan cuma Penyakit Anak-Anak!

Rabu, 06 Mei 2026 - 15:10:00 WIB
DBD Berbahaya untuk Dewasa, Bukan cuma Penyakit Anak-Anak!
Demam berdarah. (Foto: Freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id Demam berdarah dengue (DBD) selama ini kerap dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak. Padahal, kelompok usia dewasa juga memiliki risiko tinggi terinfeksi dan mengalami dampak serius, terutama bagi mereka yang berada di usia produktif.

Data menunjukkan, DBD kini tidak lagi mengenal batas usia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini bahkan dapat menyerang siapa saja sepanjang tahun, seiring perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu.

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, menegaskan bahwa dampak DBD pada orang dewasa sering kali kurang disadari.

"Sering kali dengue dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak, padahal pada kelompok usia dewasa risikonya tetap tinggi dan dapat berdampak luas," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (6/5/2026).

Dia menjelaskan, tidak sedikit pasien dewasa harus menjalani rawat inap akibat DBD. Kondisi ini tentu berdampak langsung pada aktivitas sehari-hari hingga produktivitas kerja.

"Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga," katanya.

Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa risiko komplikasi pada pasien dewasa bisa meningkat, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid seperti diabetes, hipertensi, maupun gangguan kesehatan lainnya.

"Kondisi ini dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menambahkan bahwa DBD memiliki karakteristik yang sulit diprediksi.

Gejala awal seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, hingga muntah, dapat berkembang cepat menjadi kondisi yang lebih serius, seperti perdarahan hebat hingga syok.

"Perburukan bisa terjadi dengan cepat, bahkan pada pasien yang sebelumnya terlihat stabil," katanya.

Melihat risiko tersebut, para ahli menekankan pentingnya upaya pencegahan yang dilakukan secara konsisten dan komprehensif oleh semua kelompok usia.

Langkah pencegahan dasar seperti 3M Plus tetap menjadi kunci utama. Selain itu, masyarakat juga diimbau mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan seperti vaksin dengue. 

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut