Diare Jadi Salah Satu Penyebab Kematian Anak, Ini Upaya Kemenkes
JAKARTA, iNews.id - Masalah pencernaan seperti diare memang umum jika dirasakan oleh orang dewasa, meski bisa fatal jika diare itu jangka panjang dan menyebabkan dehidrasi hingga kekurangan cairan elektrolit. Tetapi ternyata jika penyakit ini diderita oleh anak-anak, akibatnya bisa lebih fatal, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Berdasarkan riset nasional menunjukkan, 31,4 persen dari kematian bayi dan 25,2 persen dari kematian balita di Indonesia disebabkan oleh diare. Bahkan, dokter spesialis anak berbasis di Jakarta, DR. Dr. Ariani Dewi Widodo SpA(K) mengungkapkan data bahwa diare merupakan penyakit nomor dua yang menyebabkan kematian anak terbanyak setelah pneumonia.
Melihat fakta ini, Kementerian Kesehatan RI menyadari jika perilaku kebersihan yang buruk, serta air minum yang tidak aman menjadi penyebab banyaknya kematian anak akibat diare di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, dalam hal ini pihak Kemenkes menjadikan perbaikan sanitasi dan air bersih menjadi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang harus dicapai.
"Sanitasi dan air bersih merupakan tujuan keenam dari tujuan pembangunan berkelanjutan. Sanitasi dan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang meliputi air minum, hygiene dan sanitasi, kualitas air, efisiensi penggunaan air, dan pengelolaan sumber air," kata Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima iNews.id, Kamis (18/10/2018).
Dia menjelaskan, pihak Kemenkes, beberapa kementerian lain dan mitra lain telah meluncurkan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pada 2008. Ada lima pilar STBM, yaitu stop BAB sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, pengelolaan sampah, dan pengelolaan limbah cair.