Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dokter Murka Lihat Bigmo Diduga Ajak Anak-Anak Promosikan Vape: Kesel Banget!
Advertisement . Scroll to see content

Dokter Ungkap Vape Tak Akan Selamatkan Remaja dari Rokok Tembakau, Ini Alasannya!

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:32:00 WIB
Dokter Ungkap Vape Tak Akan Selamatkan Remaja dari Rokok Tembakau, Ini Alasannya!
Vape bukan solusi menghindarkan anak dan remaja dari rokok tembakau. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Anggapan rokok elektronik atau vape dapat menjadi jalan keluar dari kebiasaan merokok pada remaja dinilai keliru. Apa alasannya?

Edukator kesehatan dr Adam Prabata menegaskan, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa penggunaan vape pada usia muda dapat meningkatkan risiko menjadi perokok tembakau aktif.

Melalui unggahan di media sosialnya, dr Adam menjelaskan bahwa vape bukanlah solusi untuk mencegah remaja merokok. Sebaliknya, rokok elektronik justru dapat menjadi pintu masuk menuju penggunaan rokok konvensional.

"Penelitian menemukan bahwa remaja pengguna vape punya risiko hampir 3x lipat buat akhirnya jadi perokok tembakau aktif," kata dr Adam, dikutip Jumat (31/7/2026).

"Jadi anggapan vape itu jalan keluar dari rokok, sebenarnya kebalik. Malah pada anak dan remaja, vape lebih sering jadi gerbang masuk ke rokok konvensional," tambahnya.

Menurutnya, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan vape pada kelompok usia anak dan remaja tidak boleh dianggap sebagai alternatif yang lebih aman. Risiko ketergantungan terhadap nikotin tetap ada dan justru dapat meningkatkan peluang seseorang beralih ke rokok tembakau.

Selain meningkatkan risiko menjadi perokok aktif, dr Adam juga mengingatkan bahwa kandungan nikotin dalam vape dapat mengganggu perkembangan otak anak dan remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan.

"Pada anak, nikotin dalam vape bisa bekerja langsung ke otak yang masih berkembang. Nikotin bisa mengganggu perkembangan otak anak, memengaruhi kontrol diri, kemampuan belajar, sampai risiko masalah perilaku," jelasnya.

Ia menambahkan, dampak nikotin terhadap otak anak dapat berpengaruh pada kemampuan belajar hingga pengendalian diri.

"Bayangin, bisa ngaruh ke otak, taruhannya masa depan anaknya," tambahnya.

Tak hanya itu, dr Adam juga menyoroti kandungan zat berbahaya dalam cairan vape. Menurutnya, cairan rokok elektrik mengandung formaldehid dan logam berat yang dapat merusak paru-paru serta berpotensi meningkatkan risiko kanker.

"Cairan vape mengandung formaldehid dan logam berat, zat-zat yang bisa merusak paru-paru dan berpotensi menyebabkan kanker," ujarnya.

Karena itu, dr Adam menilai anak dan remaja seharusnya dijauhkan dari penggunaan maupun promosi vape. Ia menegaskan, perlindungan terhadap kelompok usia muda perlu menjadi prioritas mengingat dampak nikotin tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan dan perilaku hingga dewasa.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut