Dunia Medis Geger! Ginjal Babi Hidup di Tubuh Manusia Selama 271 Hari
JAKARTA, iNews.id – Bayangkan, organ babi ditanamkan ke tubuh manusia dan tetap bekerja selama berbulan-bulan. Hal yang terdengar seperti cerita fiksi ilmiah itu kini benar-benar terjadi.
Tim dokter di Amerika Serikat mencatat terobosan mengejutkan dalam dunia transplantasi setelah ginjal babi hasil rekayasa genetik berhasil berfungsi di tubuh seorang pria selama 271 hari. Durasi tersebut menjadi yang terlama yang pernah tercatat untuk transplantasi ginjal babi pada manusia.
Pasien tersebut adalah Tim Andrews, pria yang menderita penyakit ginjal stadium akhir akibat diabetes tipe 2. Pada usia 66 tahun, Andrews menjalani transplantasi ginjal babi pada 25 Januari 2025.

Ginjal babi tersebut langsung bekerja setelah ditanamkan ke tubuh Andrews. Organ itu kemudian terus menjalankan fungsinya selama 271 hari, sebelum akhirnya harus diangkat pada Oktober 2025.
Bagi Andrews, transplantasi tersebut bukan sekadar eksperimen medis. Prosedur itu memberinya kesempatan untuk terbebas sementara dari ketergantungan terhadap mesin dialisis.
"Harapan adalah hal terbesar, kesempatan untuk bebas dari mesin dialisis dan menjalani hidup," ujar Andrews, dikutip dari BBC, Jumat (4/9/2026).
Terobosan ini menjadi penting karena dunia menghadapi persoalan besar berupa kekurangan organ untuk transplantasi.
Di Amerika Serikat, sekitar 100.000 orang menunggu transplantasi ginjal, sementara jumlah transplantasi yang dilakukan setiap tahun hanya sekitar 25.000. Kondisi tersebut membuat banyak pasien harus menjalani dialisis sambil menunggu donor yang sesuai.
Andrews bahkan sempat diberi tahu bahwa dirinya bisa membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun untuk mencapai posisi teratas dalam daftar tunggu transplantasi. Sementara itu, rata-rata usia harapan hidup pasien yang menjalani dialisis disebut sekitar lima tahun.
Situasi tersebut membuat transplantasi organ hewan atau xenotransplantation mulai mendapat perhatian serius.
Dokter dari Mass General Brigham menilai ginjal babi berpotensi digunakan sebagai 'jembatan' bagi pasien, yakni membantu mempertahankan fungsi ginjal sampai organ manusia dari donor tersedia.
Dokter Leonardo Riella dari Center for Transplantation Sciences Mass General Brigham mengatakan, kelangkaan organ telah membawa dunia medis ke dalam situasi krisis.
"Kami bekerja sangat keras untuk membawa harapan dan kami benar-benar merasa xenotransplantasi dapat menjadi alternatif bagi pasien yang tidak memiliki donor hidup, sehingga berpotensi melewati masa dialisis dan membawa mereka menuju transplantasi," kata Riella.
Meski disebut ginjal babi, organ yang ditransplantasikan kepada Andrews bukan berasal dari babi biasa yang diambil begitu saja dari peternakan.
Para peneliti menggunakan babi mini Yucatan yang telah menjalani 69 modifikasi genom untuk membuat organnya lebih kompatibel dengan tubuh manusia.
Modifikasi tersebut dilakukan untuk mengatasi salah satu tantangan terbesar xenotransplantasi, yakni sistem kekebalan manusia yang akan langsung mengenali organ hewan sebagai benda asing dan berusaha menghancurkannya.
Dalam kondisi normal, reaksi kekebalan terhadap organ babi dapat terjadi dengan sangat cepat. Karena itu, para ilmuwan melakukan sejumlah perubahan genetik untuk mengurangi bagian sel babi yang mudah dikenali sistem imun manusia, menambahkan elemen DNA manusia sebagai semacam "kamuflase", serta menonaktifkan virus yang tersembunyi di dalam DNA babi.
Perjalanan ginjal babi tersebut di dalam tubuh Andrews juga tidak sepenuhnya mulus.
Dokter menemukan tanda awal bahwa sistem kekebalan tubuh Andrews mulai melakukan penolakan terhadap organ tersebut. Namun, kondisi itu berhasil ditangani dengan menyesuaikan obat-obatan yang digunakan untuk menekan sistem imun.
Masalah lain muncul setelah sekitar enam bulan.
Pembuluh darah di dalam ginjal mulai mengalami kerusakan. Organ tersebut kemudian mengalami peradangan dan secara bertahap mulai kehilangan fungsinya.
Yang menarik, dokter tidak menemukan tanda bahwa antibodi menyerang ginjal babi tersebut. Karena itu, penyebab pasti kegagalan organ belum diketahui.
Setelah ginjal babi diangkat, Andrews harus kembali menjalani dialisis selama 82 hari. Pada Januari 2026, dia akhirnya mendapatkan ginjal manusia dari donor.
Ginjal manusia tersebut hingga kini dilaporkan berfungsi dengan baik.
Keberhasilan ginjal babi bertahan selama 271 hari menjadi bukti penting bahwa xenotransplantasi mulai bergerak dari sekadar eksperimen menuju kemungkinan penggunaan klinis yang lebih luas.
Namun, para peneliti menegaskan masih ada tantangan besar yang harus dipecahkan. Salah satunya adalah memahami secara tepat mengapa organ akhirnya mengalami kerusakan setelah berbulan-bulan berada di tubuh manusia.
Kasus Andrews yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet menunjukkan dua sisi sekaligus, besarnya potensi transplantasi organ hewan dan masih banyaknya persoalan yang harus diselesaikan.
Jika teknologi tersebut terus berkembang, ginjal babi hasil rekayasa genetik berpotensi menjadi salah satu solusi untuk persoalan klasik dunia transplantasi, terlalu banyak pasien yang membutuhkan organ, tetapi terlalu sedikit organ donor yang tersedia.
Bagi pasien seperti Andrews, terobosan itu bukan hanya tentang teknologi. Itu adalah tentang waktu, kesempatan hidup, dan harapan untuk terbebas dari mesin dialisis sambil menunggu donor manusia yang cocok.
Editor: Muhammad Sukardi