Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bukan Cuma Pola Makan, Ini 3 Penyebab Gagal Ginjal pada Anak hingga Harus Cuci Darah
Advertisement . Scroll to see content

Fakta-Fakta Gagal Ginjal pada Anak, Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:55:00 WIB
Fakta-Fakta Gagal Ginjal pada Anak, Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua
Gangguan ginjal berat pada anak dapat dipicu sejumlah kondisi medis, mulai dari sindrom nefrotik resisten steroid hingga kelainan bawaan dan peradangan ginjal. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Gagal ginjal pada anak menjadi perhatian orang tua, terutama ketika kondisi tersebut berkembang hingga membutuhkan cuci darah atau terapi pengganti ginjal jangka panjang. Namun, anggapan bahwa penyakit ini semata-mata disebabkan kebiasaan mengonsumsi jajanan sembarangan tidak sepenuhnya tepat.

Dokter Spesialis Anak, dr Reza Fahlevi, menjelaskan penyebab gagal ginjal pada anak berbeda dengan orang dewasa. Pada anak, gangguan ginjal berat dapat dipicu sejumlah kondisi medis, mulai dari sindrom nefrotik resisten steroid hingga kelainan bawaan dan peradangan ginjal.

Lantas, apa saja fakta-fakta gagal ginjal pada anak yang perlu diketahui orang tua? Berikut ulasannya.

1. Penyebab Gagal Ginjal Anak Berbeda dengan Orang Dewasa

Gagal ginjal pada anak tidak selalu berkaitan dengan pola makan atau kebiasaan hidup sehari-hari. Menurut dr Reza, penyebabnya berbeda dengan gangguan ginjal yang banyak ditemukan pada orang dewasa.

"Banyak yang berpikir anak yang mengalami gagal ginjal diakibatkan oleh pola hidup yang tidak sehat, misalnya jajanan sembarangan dan lain-lain. Faktanya, penyebab gagal ginjal pada anak berbeda dengan orang dewasa," ujar dr Reza dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (9/10/2026).

Pada orang dewasa, penyakit ginjal sering berkaitan dengan komplikasi diabetes melitus dan hipertensi. Sementara pada anak, terdapat kondisi medis tertentu yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal hingga membutuhkan penanganan jangka panjang.

2. Sindrom Nefrotik Resisten Steroid Bisa Memicu Kerusakan Ginjal

Salah satu penyebab anak membutuhkan terapi pengganti ginjal jangka panjang adalah sindrom nefrotik resisten steroid.

Sindrom nefrotik merupakan kondisi ketika ginjal mengeluarkan protein secara berlebihan melalui urine akibat gangguan pada sistem penyaringan ginjal. Istilah resisten steroid menunjukkan kondisi tersebut tidak memberikan respons yang memadai terhadap pengobatan steroid.

Jika gangguan berlanjut dan menyebabkan kerusakan ginjal berat, pasien dapat membutuhkan penanganan lebih lanjut sesuai kondisi medisnya.

3. Kelainan Bawaan Ginjal dan Saluran Kemih Menjadi Penyebab Lain

Faktor kedua adalah kelainan bawaan pada ginjal dan saluran kemih. Kondisi ini sudah ada sejak lahir dan dapat memengaruhi struktur maupun fungsi organ tersebut.

Dampaknya bergantung pada jenis dan tingkat keparahan kelainan. Pada kondisi tertentu, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis yang membutuhkan pemantauan serta penanganan medis jangka panjang.

4. Peradangan Ginjal akibat Penyakit Autoimun

Penyebab ketiga adalah peradangan pada ginjal yang dapat berkaitan dengan penyakit tertentu, termasuk gangguan autoimun.

dr Reza menyebut lupus dan nefropati IgA sebagai contoh penyakit yang dapat memicu peradangan ginjal.

"Yang kedua adalah penyakit bawaan pada ginjal dan saluran kemih. Ya, yang ketiga adalah peradangan pada ginjal, misalnya karena penyakit lupus, IgA nephropathy, dan lain-lain," kata dr Reza.

Peradangan yang berlangsung dan menyebabkan kerusakan jaringan ginjal dapat mengganggu fungsi organ tersebut. Karena itu, diagnosis dan penanganan berdasarkan pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan kondisi serta terapi yang sesuai.

5. Anak dengan Gagal Ginjal Bisa Membutuhkan Cuci Darah hingga Transplantasi

Pada kondisi gagal ginjal berat, anak dapat membutuhkan terapi pengganti ginjal untuk membantu menjalankan fungsi yang tidak lagi dapat dilakukan ginjal secara memadai.

Menurut dr Reza, pilihan terapi tersebut mencakup hemodialisis atau cuci darah, continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), serta transplantasi ginjal.

Pemilihan terapi bergantung pada kondisi pasien, tingkat kerusakan ginjal, dan pertimbangan tim medis. Tidak semua anak dengan gangguan ginjal akan membutuhkan terapi pengganti ginjal karena penanganan ditentukan oleh jenis dan tingkat keparahan penyakit.

6. Pola Hidup Sehat Tetap Penting untuk Menjaga Ginjal Anak

Meski penyebab gagal ginjal pada anak tidak selalu berkaitan langsung dengan makanan yang dikonsumsi, orang tua tetap perlu membiasakan pola hidup sehat sejak dini.

dr Reza mengingatkan pentingnya mengatur pola makan dan mencegah obesitas. Kebiasaan tersebut membantu menjaga kesehatan anak dan mengurangi risiko sejumlah penyakit yang dapat memengaruhi fungsi ginjal pada masa mendatang.

"Nah, lantas apakah anak boleh pola hidupnya tidak dijaga? Tidak juga. Pola hidup sehat pada anak tetap harus dijaga: mencegah obesitas, mengatur pola makan, ya. Karena ini kaitannya untuk pencegahan penyakit ginjal yang dapat terjadi di kemudian hari," ucap dr Reza.

Orang tua perlu memahami bahwa pola hidup sehat bukan jaminan untuk mencegah semua penyakit ginjal, terutama yang disebabkan kelainan bawaan atau kondisi medis tertentu. Jika anak mengalami keluhan yang mengkhawatirkan, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut