Fakta Menarik! Plasma Darah Bisa Jadi Bahan Baku Obat, Begini Pemanfaatannya
JAKARTA, iNews.id - Selama ini masyarakat lebih familiar dengan donor darah dibandingkan donor plasma. Padahal, plasma darah memiliki peran penting dalam dunia medis, karena mengandung berbagai protein yang dapat diolah menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP).
PODP dapat dimanfaatkan untuk membantu perawatan pasien dengan kondisi medis tertentu, termasuk gangguan perdarahan seperti hemofilia, hipoalbuminemia, hingga imunodefisiensi primer.
Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes., Sp.PK., Subsp. B.D.K.T. (K), Subsp. K.V. (K), menjelaskan plasma merupakan komponen terbesar dalam darah. Jumlahnya mencapai sekitar 55 persen dari volume darah.
"Plasma merupakan komponen terbesar dalam darah, mencakup sekitar 55% dari volume darah. Di dalamnya terdapat berbagai protein penting, termasuk albumin, antibodi dan faktor pembekuan, yang dapat diolah menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP)," kata Teguh dalam International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026 bersama Takeda, Rabu (7/10/2026).
Dengan kandungan tersebut, plasma dapat menjadi bahan dasar untuk menghasilkan berbagai produk terapi. Albumin, misalnya, dapat digunakan dalam penanganan kondisi tertentu yang berkaitan dengan rendahnya kadar albumin, sedangkan faktor pembekuan berperan dalam terapi gangguan perdarahan.
Sementara itu, antibodi dalam plasma dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan imunoglobulin yang dibutuhkan pasien dengan kondisi imunodefisiensi tertentu.
Plasma yang akan digunakan sebagai bahan baku obat diperoleh melalui proses pengambilan yang sesuai dengan ketentuan. Salah satunya menggunakan metode apheresis.
Berbeda dengan donor darah utuh, proses apheresis memungkinkan plasma dipisahkan dari komponen darah lainnya. Komponen darah yang tidak diambil kemudian dikembalikan ke tubuh donor.
Karena itu, donor plasma memiliki proses yang berbeda dari donor darah biasa. Plasma yang terkumpul selanjutnya dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan produk terapi yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.
Ketua Bidang Pengembangan Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, dr. Linda Lukitari Waseso, mengatakan keberadaan donor plasma dan praktik pengambilan plasma yang aman merupakan bagian penting dalam mendukung ketersediaan plasma.
Menurut dia, layanan darah dan plasma yang memadai juga diperlukan agar kebutuhan pasien yang membutuhkan PODP dapat didukung secara berkelanjutan.
Salah satu kelompok pasien yang membutuhkan produk berbasis plasma adalah penyandang hemofilia. Penyakit ini berkaitan dengan gangguan proses pembekuan darah sehingga pasien dapat mengalami perdarahan yang membutuhkan penanganan tepat dan berkelanjutan.
Ketua Umum Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) dan Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), Dr. dr. Tubagus Djumhana Atmakusuma, Sp.PD-KHOM, FINASIM, mengatakan PODP memiliki peran penting dalam pengobatan pasien dengan kelainan darah.
"Produk Obat Derivat Plasma (PODP) berperan penting dalam pengobatan, seperti pada pasien dengan kelainan darah dan kondisi medis tertentu lainnya. Bagi pasien tersebut, pengobatan jangka panjang dan berkelanjutan menjadi hal yang penting," ujar Tubagus.
Pengalaman tersebut juga dirasakan Yusnidar Patah, Plt. Bidang Layman dan Wakil Ketua Bidang Finance, Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), sekaligus penyandang Hemofilia B berat.
Yusnidar menyoroti pentingnya penanganan yang tepat waktu dan berkelanjutan bagi penyandang hemofilia, termasuk tantangan dalam memperoleh perawatan di berbagai wilayah Indonesia.
Selain hemofilia, produk berbasis plasma juga dibutuhkan pasien dengan imunodefisiensi primer.
Ketua Yayasan Pasien Imunodefisiensi Primer Indonesia (YPIPI), Dimas Adhi Sugiharto, mengatakan imunoglobulin yang dibutuhkan pasien imunodefisiensi primer dibuat dari plasma.
"Bagi pasien Imunodefisiensi Primer, imunoglobulin bukan sekadar terapi pendukung — ini adalah terapi yang kami butuhkan secara rutin agar bisa tetap hidup sehat. Tanpa terapi ini, pasien sangat rentan terhadap infeksi berat yang berulang, yang dapat menurunkan kualitas hidup secara drastis bahkan mengancam jiwa," kata Dimas.
Menurut Dimas, kondisi tersebut membuat keberlanjutan pasokan plasma menjadi penting karena imunoglobulin sangat bergantung pada ketersediaan plasma.
"Imunoglobulin dibuat dari plasma, sehingga ketersediaannya sangat bergantung pada donor plasma. Tantangan kami bukan hanya soal apakah terapi ini tersedia, tetapi juga apakah terjangkau dan bisa kami akses tanpa terputus," ujarnya.
Berbeda dengan sejumlah obat yang dapat diproduksi melalui proses sintetis, plasma berasal dari manusia. Artinya, ketersediaan bahan baku tersebut sangat bergantung pada kontribusi donor dan sistem pengambilan plasma yang aman serta andal.
Kepala Komunikasi dan Informasi Yayasan Laskar Aferesis Berbagi (YLAB), Mila Rahmania, mengatakan pemahaman masyarakat mengenai manfaat donor menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong partisipasi.
"Banyak orang terdorong untuk berkontribusi ketika memahami untuk apa kontribusi mereka dan bagaimana hal tersebut dapat memberikan manfaat bagi orang lain," kata Mila.
Menurut dia, komunitas donor dapat membantu menyampaikan informasi yang akurat, meluruskan kesalahpahaman, serta memberikan pemahaman mengenai kontribusi donor plasma terhadap kebutuhan pasien.
Dari sisi pemerintah, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lucia Rizka Andalusia, mengatakan penguatan ekosistem plasma membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk layanan kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor serta industri.
"Penguatan ekosistem plasma Indonesia dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor, dan industri," ujar Lucia.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Siti Nadia Tarmizi menambahkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai plasma juga perlu diperkuat karena kontribusi donor memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan pasien.
"Produk Obat Derivat Plasma (PODP) dapat berperan penting dalam perawatan berkelanjutan bagi pasien dengan kondisi seperti hemofilia dan imunodefisiensi primer," kata Nadia.
Upaya meningkatkan pemahaman mengenai plasma dan donasi tersebut menjadi salah satu fokus International Plasma Awareness Week 2026 yang berlangsung pada 5-9 Oktober 2026 dengan tema 'Plasma Powers Possibility'.
Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences, Andreas Gutknecht, mengatakan penguatan ekosistem plasma di Indonesia juga menjadi bagian penting dalam mendukung ketersediaan terapi bagi pasien.
"Produk Obat Derivat Plasma memiliki peran penting dalam mendukung pasien yang hidup dengan kondisi kompleks dan mengancam jiwa," ujar Andreas.
Dengan demikian, perjalanan plasma tidak berhenti pada proses donor. Plasma yang dikumpulkan melalui proses yang sesuai dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk terapi. Mulai dari albumin, faktor pembekuan hingga imunoglobulin, produk tersebut kemudian digunakan untuk mendukung perawatan pasien dengan kebutuhan medis tertentu.
Karena itu, keberadaan donor plasma, proses pengambilan yang aman, pengolahan yang memenuhi standar, hingga akses pasien terhadap terapi menjadi rangkaian yang saling berkaitan dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan plasma untuk kebutuhan kesehatan.
Editor: Muhammad Sukardi