Hepatitis Jadi Penyakit Silent Killer, Begini Cara Mencegahnya

Siska Permata Sari ยท Jumat, 27 Juli 2018 - 20:16 WIB
Hepatitis Jadi Penyakit Silent Killer, Begini Cara Mencegahnya

Biasakan untuk cek kesehatan. (Foto: Gmtp)

JAKARTA, iNews.id - Hepatitis merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah serius di Indonesia, terutama hepatitis B dan C. Sebab, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sebesar 18 juta orang menderita hepatitis B dan tiga juta orang menderita hepatitis C.

Apa itu hepatitis? Hepar adalah hati dan itis adalah radang, sehingga dapat diartikan hepatitis merupakan peradangan hati yang dominan disebabkan oleh virus. Selain virus, hepatitis juga bisa disebabkan oleh obat-obatan, alkohol, dan parasit.

Tak sekadar peradangan biasa, hepatitis juga kerap disebut sebagai silent killer karena tak bergejala dan dampaknya tak main-main. Sebab, satu dari empat pengidap hepatitis akan meninggal karena kanker atau gagal hati yang menjadi dampak hepatitis.

"Penularan hepatitis B ada dua. Satu, dari ibu ke bayi atau penularan vertikal, kedua penularan horizontal, misalnya hubungan seksual, jarum suntik, transfusi darah, dan tato. Tetapi yang paling sering adalah penularan vertikal dari ibu ke anak," tutur DR. Dr. Hanifah Oswari, Sp.A(K) selaku Konsultan Gastrohepatologi Anak Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKUI) di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Dia menyebut, penularan hepatitis B ini 95 persen terjadi saat bayi dilahirkan oleh ibu yang positif memiliki hepatitis B. Sedangkan, lima persen sisanya ditularkan melalui faktor-faktor luar, yakni transfusi darah, pengguna jarum yang tidak aman, hubungan seksual yang tidak aman, serta kontak dengan darah.

"Kalau ibunya sudah hepatitis B, kira-kira 85-90 persen, bayinya ketularan," kata dia. Bahkan, menurut data statistik, sebanyak 2,2 persen dari 5,3 juta ibu hamil terdeteksi Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) reaktif. Artinya, diperkirakan 120.000 bagi akan menderita hepatitis B.

Bayi-bayi inilah yang 95 persennya berpotensi mengalami hepatitis kronis, seperti sirosis dan kanker hati di 30 tahun mendatang. Untuk memutus mata rantai ini, Dr. Hanifah menyarankan pada para calon ibu untuk mengetahui status HBsAg sebelum mengandung atau saat hamil.

"Lindungilah bayi-bayi kita, ibu hamil periksa HBsAg-nya, dan semua bayi yang baru lahir harus dikasih vaksin hepatitis di bawah 12 jam setelah lahir. Kalau HBsAg-nya positif, diberikan HB0 dan HBIg di bawah 12 jam setelah lahir," kata dia.


Editor : Tuty Ocktaviany