Jangan Dianggap Sepele, Kurang Tidur Ternyata Bisa Picu Hipertensi pada Anak
JAKARTA, iNews.id - Kebiasaan anak tidur terlalu larut malam ternyata bukan sekadar membuat mereka mengantuk dan kurang bersemangat keesokan harinya. Jika berlangsung terus-menerus, kurang tidur juga dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi pada anak.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian para orang tua. Terlebih, kebiasaan tidur anak kerap terganggu oleh berbagai aktivitas, mulai dari bermain gawai, menonton televisi, hingga bermain gim sampai larut malam.
Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A, mengungkapkan bahwa kurang tidur termasuk salah satu faktor gaya hidup yang dapat memicu hipertensi primer pada anak dan remaja.
Dalam unggahan di akun Instagram @dr_rezafahlevi, dr. Reza menjelaskan bahwa hipertensi primer pada anak berkaitan dengan pola hidup sehari-hari, termasuk kebiasaan tidur yang tidak tercukupi.
“Yang pertama adalah hipertensi primer. Hipertensi primer ini lebih disebabkan oleh pola hidup. Misalnya makanan tinggi natrium, kondisi obesitas, kurang tidur, stres ya, atau adanya faktor keturunan hipertensi dalam keluarga,” jelas dr. Reza, dikutip Jumat (6/11/2026).
Artinya, kebiasaan anak yang sering tidur larut malam dan tidak mendapatkan waktu istirahat cukup tidak boleh terus dianggap sebagai persoalan sepele.
Tidur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh, termasuk mengatur tekanan darah. Ketika seseorang tidur, tubuh memiliki kesempatan untuk beristirahat dan menjalankan berbagai proses pemulihan.
Sebaliknya, kurang tidur dapat mengganggu mekanisme pengaturan tekanan darah. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko hipertensi.
Karena itu, orang tua perlu lebih memperhatikan rutinitas tidur anak. Jangan sampai waktu istirahat mereka justru tersita oleh kebiasaan bermain gawai, menonton video, atau melakukan aktivitas lain hingga melewati waktu tidur.
Selain memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup, orang tua juga perlu membangun rutinitas tidur yang teratur. Membatasi penggunaan perangkat elektronik menjelang tidur dan menciptakan suasana kamar yang nyaman dapat membantu anak memiliki kualitas istirahat lebih baik.
Namun, kurang tidur bukan satu-satunya faktor pemicu hipertensi pada anak. Dr. Reza juga menyebut konsumsi makanan tinggi natrium, obesitas, stres, serta faktor keturunan sebagai hal yang perlu diperhatikan.
Apabila anak terdiagnosis mengalami tekanan darah tinggi, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan penyebabnya hanya karena pola tidur yang buruk. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui apakah kondisi tersebut termasuk hipertensi primer atau hipertensi sekunder yang berkaitan dengan gangguan organ tubuh.
Dokter Reza mengimbau orang tua untuk membawa anak berkonsultasi dengan dokter anak agar penyebab hipertensi dapat diketahui dan penanganannya sesuai dengan kondisi masing-masing.
“Jadi, kalau anak mengalami hipertensi, harus dikonsultasikan ke dokter anak untuk dicari dulu penyebabnya apakah dia hipertensi primer atau hipertensi sekunder. Sehingga nanti tata laksananya juga lebih terarah dan tepat sasaran,” pungkasnya.
Dengan demikian, memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup bukan hanya penting untuk mendukung tumbuh kembang, tetapi juga menjadi salah satu langkah menjaga kesehatan tekanan darah sejak dini.
Editor: Muhammad Sukardi