Jangan Tunggu Patah Tulang! Ini Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang sejak Dini
JAKARTA, iNews.id - Menjaga kesehatan tulang kerap baru menjadi perhatian ketika seseorang mengalami cedera, nyeri sendi, atau bahkan patah tulang. Padahal, gangguan seperti osteoporosis bisa berkembang tanpa gejala yang jelas hingga akhirnya menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat berusia 50 tahun ke atas. International Osteoporosis Foundation (IOF) mencatat, satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki dalam kelompok usia tersebut akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya.
Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Patah tulang akibat kerapuhan dapat mengganggu mobilitas, mengurangi kemandirian, hingga memengaruhi kualitas hidup seseorang. Terlebih, orang yang pernah mengalami patah tulang akibat kerapuhan memiliki risiko lebih tinggi mengalami patah tulang berikutnya, terutama dalam satu hingga dua tahun setelah kejadian pertama.

Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, Hospital Director Siloam Hospitals Mampang, mengatakan penanganan pasien patah tulang seharusnya tidak berhenti setelah tindakan medis selesai. Pasien tetap membutuhkan evaluasi dan tindak lanjut untuk mengetahui faktor risiko osteoporosis serta mencegah kejadian serupa.
"Penanganan pasien patah tulang tidak seharusnya berhenti ketika tindakan medis selesai dan pasien diperbolehkan pulang. Melalui pengembangan Fracture Liaison Service, kami ingin membangun proses tindak lanjut yang lebih terstruktur, mulai dari identifikasi pasien berisiko, evaluasi osteoporosis, hingga edukasi dan penanganan lanjutan," ujarnya.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah Fracture Liaison Service (FLS). Layanan ini merupakan sistem penanganan terkoordinasi bagi pasien yang pernah mengalami patah tulang akibat kerapuhan.
Melalui FLS, pasien dapat diidentifikasi untuk menjalani evaluasi risiko osteoporosis, mendapatkan penanganan yang sesuai, serta memperoleh edukasi dan pemantauan lanjutan. Pendekatan ini penting karena keberhasilan pengobatan patah tulang pertama tidak otomatis menghilangkan risiko kejadian berikutnya.
Siloam Hospitals Mampang sendiri telah tercatat dalam Map of Best Practice Capture the Fracture® yang dikelola International Osteoporosis Foundation (IOF), dengan status New FLS (Blue Star). Status tersebut menandai tahap awal pengembangan layanan sekaligus menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas praktik pencegahan patah tulang berulang.
Selain risiko patah tulang berulang, persoalan lain yang perlu diwaspadai adalah osteoporosis yang sering berkembang tanpa keluhan berarti. Seseorang bisa saja merasa sehat dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, meskipun kepadatan tulangnya mulai berkurang.
Dokter Dohar A.L. Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K), Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Subspesialis Orthopaedi Tulang Belakang Konsultan Siloam Hospitals Mampang, menjelaskan osteoporosis sering kali baru diketahui setelah seseorang mengalami patah tulang.
Bahkan, gangguan pada tulang belakang akibat kerapuhan bisa muncul dengan tanda yang tidak selalu disadari. Penurunan tinggi badan dan perubahan postur tubuh, misalnya, kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
"Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala sampai seseorang mengalami patah tulang. Pada tulang belakang, tanda-tandanya bahkan bisa berupa penurunan tinggi badan atau perubahan postur yang dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Padahal, kondisi ini dapat dikenali dan ditangani lebih awal," kata dr. Dohar.
Karena itu, masyarakat perlu memahami faktor risiko osteoporosis dan berkonsultasi mengenai pemeriksaan yang sesuai. Salah satunya melalui pemeriksaan kepadatan tulang atau Bone Mineral Density (BMD) untuk mengevaluasi kondisi tulang berdasarkan kebutuhan dan indikasi medis.

Perhatian terhadap kesehatan tulang dan sendi juga tidak hanya ditujukan kepada orang lanjut usia atau mereka yang pernah mengalami patah tulang. Individu yang masih aktif bekerja, berolahraga, maupun menjalankan rutinitas sehari-hari tetap perlu memperhatikan kondisi sistem geraknya.
Executive Director Siloam Hospitals Mampang, Ratih Hadiwinoto, mengatakan masyarakat perlu mengubah pandangan bahwa layanan orthopaedi hanya dibutuhkan ketika seseorang mengalami cedera atau harus menjalani operasi.
"Kami ingin masyarakat melihat layanan orthopaedi bukan hanya sebagai tempat untuk datang ketika mengalami cedera atau membutuhkan operasi. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan lebih awal untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi. Melalui program skrining, edukasi, dan layanan yang lebih terintegrasi, kami ingin membantu masyarakat tetap aktif dan mempertahankan kualitas hidupnya lebih lama," ujar Ratih.
Upaya mengenali gangguan sejak dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa di antaranya meliputi skrining osteoporosis, osteoartritis lutut, nyeri punggung bawah, nyeri bahu, serta gangguan pada kaki dan pergelangan kaki.
Pemeriksaan kesehatan bagi individu aktif dan pegiat olahraga juga menjadi salah satu pendekatan untuk mengenali kondisi tubuh. Selain itu, skrining berbasis komunitas, seperti pemeriksaan skoliosis dan bunion, dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan sistem gerak.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan tulang bukan sekadar upaya menghindari patah tulang, melainkan juga mempertahankan kemampuan tubuh untuk bergerak dan menjalani aktivitas secara mandiri.
Deteksi dini, pemeriksaan sesuai kebutuhan, serta penanganan yang tepat, termasuk tindak lanjut setelah patah tulang pertama melalui pendekatan FLS, menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan tulang sepanjang kehidupan.
Editor: Muhammad Sukardi