Kasus Influenza A Mulai Meningkat, Lebih Bahaya dari Covid-19?
JAKARTA, iNews.id - Kasus Influenza A tengah menjadi perhatian setelah data surveilans menunjukkan peningkatan proporsi hasil positif dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut semakin ramai diperbincangkan karena banyak anak dilaporkan mengalami demam tinggi, batuk, dan gejala mirip Covid-19.
Lantas, apakah Influenza A saat ini lebih berbahaya daripada Covid-19? Simak penjelasan selengkapnya hanya di artikel ini.
Jawabannya tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan kenaikan kasus. Influenza dan Covid-19 merupakan dua penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus berbeda dan sama-sama dapat menyebabkan komplikasi serius.
Data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan proporsi influenza pada minggu ke-36 atau periode hingga 12 September 2026 mencapai 38 persen, meningkat dibandingkan 22 persen pada minggu sebelumnya.
Namun, kenaikan proporsi positif tersebut belum berarti Indonesia sedang mengalami wabah influenza. Kemenkes masih mengategorikan aktivitas influenza secara nasional dalam level rendah.
Surveilans tersebut dilakukan melalui pemantauan di 39 puskesmas, 35 rumah sakit, dan 14 Balai Karantina Kesehatan. Dari kasus influenza yang terdeteksi, sekitar 33 persen terjadi pada kelompok usia 0-4 tahun.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, sebelumnya mengatakan terdapat kenaikan kasus influenza di sejumlah kota.
Namun, secara nasional kenaikannya belum signifikan dan masih terkendali.
"Secara nasional kenaikannya tidak terlalu signifikan, lonjakannya tidak terlalu melonjak tajam begitu, mungkin di beberapa daerah iya. Jadi secara nasional tuh masih aman, terkendali untuk yang influenza-influenza tadi," kata Aji, Kamis (17/9/2026).
Kemenkes juga menyebut peningkatan influenza memiliki kaitan dengan pola musiman. Faktor lingkungan, seperti kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, serta paparan abu vulkanik, turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kelompok rentan.
Meski sebagian besar orang dapat pulih tanpa perawatan khusus, influenza bukan penyakit yang selalu ringan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan influenza musiman menyebabkan sekitar 1 miliar kasus setiap tahun di dunia, termasuk 3-5 juta kasus penyakit berat dan sekitar 290.000-650.000 kematian akibat penyakit pernapasan terkait influenza setiap tahun.
Pada kondisi berat, influenza dapat berkembang menjadi pneumonia hingga sepsis. Penyakit ini juga dapat memperburuk kondisi kronis yang sudah dimiliki seseorang.
Kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi antara lain anak berusia di bawah 5 tahun, terutama balita, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah.
CDC juga menyebut anak di bawah 5 tahun, terutama di bawah 2 tahun, memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat influenza. Komplikasinya dapat berupa pneumonia, dehidrasi, infeksi telinga hingga gangguan otak dan, pada kasus yang jarang, kematian.
Perbandingan antara Influenza A dan Covid-19 tidak bisa ditentukan dengan satu ukuran.
Keduanya merupakan penyakit pernapasan yang dapat menimbulkan gejala serupa, mulai dari demam, batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, nyeri tubuh hingga sesak napas.
CDC menegaskan bahwa gejala saja tidak cukup untuk membedakan influenza dan Covid-19. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan virus penyebab infeksi. Bahkan, seseorang dapat mengalami infeksi influenza dan Covid-19 secara bersamaan, meskipun kondisi tersebut tidak umum.
Dari sisi penularan, CDC menyebut Covid-19 secara umum lebih mudah menyebar dibandingkan influenza dan dapat menular dalam periode yang lebih panjang. Namun, influenza juga dapat menyebabkan penyakit berat dan komplikasi, terutama pada kelompok rentan.
Menariknya, CDC mencatat bahwa secara keseluruhan influenza tampaknya dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat pada anak-anak dibandingkan Covid-19.
Artinya, munculnya kasus Influenza A pada anak tetap perlu diperhatikan, tetapi tidak tepat jika langsung disimpulkan bahwa Influenza A secara umum lebih berbahaya daripada Covid-19.
Influenza biasanya muncul secara tiba-tiba. Gejalanya dapat berupa demam atau rasa menggigil, batuk, sakit tenggorokan, pilek atau hidung tersumbat, nyeri otot dan tubuh, sakit kepala serta kelelahan.
Pada anak, muntah dan diare juga dapat terjadi.
Sebagian besar penderita dapat pulih dalam beberapa hari hingga kurang dari dua minggu. Namun, kondisi tertentu membutuhkan perhatian medis.
Pada anak, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda seperti napas cepat atau kesulitan bernapas, bibir atau wajah membiru, tulang rusuk tertarik ketika bernapas, nyeri dada, dehidrasi, kejang, tidak responsif ketika terjaga, atau demam maupun batuk yang sempat membaik tetapi kemudian kembali memburuk.
Kesamaan gejala antara influenza dan Covid-19 membuat masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan gejala untuk menentukan penyakit.
CDC merekomendasikan pemeriksaan untuk membantu memastikan apakah seseorang mengalami influenza, Covid-19, atau infeksi lainnya. Pemeriksaan juga penting karena penanganan antivirus untuk influenza dan Covid-19 berbeda.
Untuk influenza, obat antivirus dapat digunakan pada pasien tertentu, terutama mereka yang berisiko mengalami komplikasi atau mengalami penyakit berat. WHO menyarankan kelompok berisiko tinggi dan pasien dengan gejala berat mendapatkan antivirus sedini mungkin sesuai penilaian tenaga medis.
WHO menyebut vaksinasi merupakan cara terbaik untuk mencegah influenza. Vaksin influenza diperbarui secara berkala untuk menyesuaikan virus yang diperkirakan beredar.
Selain vaksinasi, pencegahan dapat dilakukan dengan mencuci tangan secara teratur, menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, serta tetap berada di rumah ketika sedang mengalami gejala.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat memperkuat daya tahan tubuh melalui makanan bergizi, istirahat cukup dan aktivitas fisik. Orang yang sedang sakit sebaiknya tidak memaksakan diri bekerja atau bersekolah.
Dengan demikian, peningkatan Influenza A memang perlu diwaspadai, terutama karena kelompok anak menjadi salah satu kelompok yang banyak terdeteksi dalam surveilans. Namun, data yang tersedia saat ini belum mendukung kesimpulan bahwa Influenza A secara umum lebih berbahaya daripada Covid-19.
Yang lebih penting, masyarakat perlu mengenali tanda bahaya, tidak mendiagnosis penyakit hanya berdasarkan gejala, dan segera mencari pertolongan medis apabila kondisi memburuk.
Editor: Muhammad Sukardi