Kasus Virus Corona di Indonesia Meningkat, Ini 4 Gejala Ringan yang Tak Boleh Disepelekan

Siska Permata Sari ยท Kamis, 26 Maret 2020 - 08:20 WIB
Kasus Virus Corona di Indonesia Meningkat, Ini 4 Gejala Ringan yang Tak Boleh Disepelekan

Waspada jika alami sakit perut bisa pertanda kena virus corona. (Foto: Ilustrasi Medicalnewstoday)

JAKARTA, iNews.id - Penyebaran virus corona baru (Covid-19) yang sangat cepat, masih terus berlangsung. Per Rabu (25/3/2020), akumulasi kasus terkonfirmasi positif virus corona di Indonesia menjadi 790 kasus dengan 31 sembuh dan 58 meninggal meninggal dunia.

Data baru tersebut diungkapkan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto. Dia juga mengatakan, orang yang terinfeksi virus corona juga dapat tidak memiliki gejala.

Telah kita ketahui bahwa beberapa gejala yang menandai virus korona di antaranya seperti demam, batuk kering, dan sesak napas. Namun di luar gejala tersebut, sebagian pasien positif juga melaporkan memiliki gejala lain.

Apa saja? Mari simak informasinya seperti dirangkum dari The Sun, Kamis (26/3/2020).

1. Sakit perut

Sakit perut atau masalah pencernaan sering dikaitkan dengan bakteri atau mengalami salah makan. Tetapi, itu juga bisa menandakan Anda terinfeksi virus corona. Sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam American Journal of Gastroenterology menunjukkan orang mungkin mengalami masalah pencernaan, seperti diare, ketika mereka terinfeksi virus corona.

Para peneliti menganalisis data dari 204 pasien Covid-19 di Provinsi Hubei China dan mereka menemukan bahwa 48,5 persen pasien ini tiba di rumah sakit dengan gejala pencernaan seperti diare, muntah, atau sakit perut.

2. Masalah pada indra pengelihatan dan penciuman

Belum lama ini, pakar mengingatkan bahwa tidak dapat mencium bau atau rasa juga dapat dikaitkan dengan virus corona. British Association of Otorhinolaryngology, yang mewakili para ahli di bidang kedokteran telinga, hidung dan tenggorokan, mengatakan bahwa mereka yang kehilangan indra penciuman harus segera mengisolasi diri. Selain indra penciuman, konjungtivitis infeksi mata mungkin juga merupakan tanda lain.

3. Kelelahan secara mental

Beberapa orang yang positif virus corona mungkin mengalami kelelahan pada mentalnya sebagai gejala lain. Walaupun tidak secara resmi dianggap sebagai gejala tetapi merupakan indikator lain yang dilaporkan dialami oleh sebagian pasien positif virus corona.

4. Kelelahan fisik

Tak hanya kelelahan mental, fisik pun juga merasakan hal yang sama. Menurut sebuah laporan dalam Journal of American Medical Association, hingga 44 persen dari mereka yang dirawat di rumah sakit karena positif virus corona baru melaporkan mengalami kelelahan ekstrem.

Lalu, apa yang dilakukan ketika sakit? Anda bisa menggunakan panduan berikut ini dari Kementerian Kesehatan RI:

Jika Sakit Tetap di Rumah

- Jangan pergi bekerja, ke sekolah, atau ruang publik untuk menghindari penularan Covid-19 ke orang lain di masyarakat.

- Harus mengisolasi diri dan memantau diri sendiri untuk menghindari kemungkinan penularan pada orang-orang di sekitar, termasuk keluarga.

- Melaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat tentang kondisi kesehatannya, riwayat kontak dengan pasien Covid-19 atau riwayat perjalanan dari negara/area transmisi lokal, untuk dilakukan pemeriksaan sampel oleh petugas kesehatannya.

Isolasi Diri Sendiri

- Ketika Anda merasa sakit (demam atau batuk/pilek/nyeri tenggorokan/gejala penyakit pernapasan lainnya), tetapi tidak memiliki risiko penyakit penyerta lainnya (diabetes, penyakit jantung, kanker, penyakit paru kronik, AIDS, penyakit autoimun, dan lain-lain), maka secara sukarela atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan, tinggal di rumah, dan tidak pergi bekerja, sekolah, atau tempat-tempat umum.

- Orang Dalam Pemantauan (ODP), yang memiliki demam/gejala pernapasan dengan riwayat dari negara/area transmisi lokal, dan atau orang yang tidak menunjukkan gejala, tetapi pernah memiliki kontak erat dengan pasien positif Covid-19.

- Lama waktu isolasi diri selama 14 hari hingga diketahui hasil pemeriksaan sampel di laboratorium.

Apa yang Dilakukan saat Isolasi Diri?

- Tinggal di rumah dan jangan pergi bekerja dan ke ruang publik.

- Gunakan kamar terpisah di rumah dari anggota keluarga lainnya. Jika memungkinkan, upayakan menjaga jarang setidaknya 1 meter dari anggota keluarga lain.

- Gunakan masker selama masa isolasi diri.

- Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis, seperti batuk atau kesulitan bernapas.

- Hindari pemakaian bersama peralatan makan (piring, sendok, garpu, dan gelas), perlengkapan mandi (handuk, sikat gigi, dan gayung), serta linen/seprai.

- Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dengan mengonsumsi makanan bergizi, melakukan kebersihan tangan rutin, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta keringkan, lakukan etika batuk/bersin.

- Berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi.

- Jaga kebersihan rumah dengan cairan disinfektan.

- Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit memburuk (seperti sesak napas) untuk dirawat lebih jauh.

Apa yang dilakukan saat Pemantauan Diri Sendiri?

- Lakukan observasi/pemantauan diri sendiri di rumah.

- Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis, seperti batuk atau kesulitan bernapas.

- Jika ada muncul gejala, laporkan ke petugas di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

- Jika hasil pemeriksaan sampel dinyatakan positif, maka melakukan isolasi diri sendiri.

- Apabila memiliki penyakit bawaan berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan, maka dilakukan perawatan di rumah sakit.


Editor : Tuty Ocktaviany