Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Terungkap, Permainan Sederhana Ini Dapat Mendukung Perkembangan Otak Anak
Advertisement . Scroll to see content

Keluarga Tak Harmonis Berdampak pada Perkembangan Otak Anak, Begini Kata Dokter

Selasa, 12 Mei 2026 - 02:34:00 WIB
Keluarga Tak Harmonis Berdampak pada Perkembangan Otak Anak, Begini Kata Dokter
Dokter Adam Prabata membahas dampak kondisi keluarga yang tidak stabil terhadap aktivitas otak anak. (Foto: X/ All day Astronomy)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Dokter yang sering membagikan konten kesehatan, dr Adam Prabata kembali membagikan edukasi kesehatan melalui akun media sosialnya. Di akun X @AdamPrabata, dia membahas dampak kondisi keluarga yang tidak stabil terhadap aktivitas otak anak.

Dalam unggahannya, Adam menjelaskan anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik, kekerasan, atau pengabaian ternyata dapat mengalami pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah berada di medan perang.

“Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang,” tulis Adam.

Hal itu ditemukan melalui penelitian yang memeriksa aktivitas otak anak menggunakan metode functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI). Menurut dr Adam, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di dua area penting otak, yakni anterior insula dan amigdala.

Di mana keduanya berperan dalam mendeteksi ancaman serta merespons stres. Kondisi tersebut membuat anak berada dalam mode “siap siaga” secara terus-menerus karena terbiasa hidup di lingkungan penuh tekanan.

“Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi ‘siap siaga’ terus-menerus, mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur,” katanya.

Dokter Adam juga menyebut kondisi itu dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental anak. Anak dapat mengalami risiko gangguan kecemasan, kesulitan mengatur emosi, hingga masalah psikologis lainnya.

Namun dia menegaskan kondisi tersebut bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah akan mengalami kerusakan otak permanen. Sebab otak disebut sangat plastis, bisa pulih dengan lingkungan aman dan stabil.

“Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan tepat,” tulisnya.

Untuk itu, dia menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman dan suportif demi perkembangan mental dan emosional anak di masa depan.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut