Menangis Bukan Tanda Lemah, Ini 4 Manfaatnya bagi Kesehatan Jiwa
JAKARTA, iNews.id - Banyak orang tumbuh dengan anggapan menangis merupakan bentuk kelemahan. Tak jarang, seseorang memilih menahan air mata agar tetap terlihat kuat di hadapan orang lain.
Padahal, dari sudut pandang kesehatan jiwa, menangis merupakan mekanisme alami tubuh dalam melepaskan emosi. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun membagikan pandangannya mengenai manfaat menangis bagi kesehatan mental.
Dalam unggahan video di akun Instagramnya, Budi menegaskan menangis bukan tanda seseorang rapuh. Menurut dia, menangis justru merupakan proses alami tubuh yang dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan jiwa.
"Jangan salah, menangis itu ternyata ada manfaatnya loh buat kesehatan jiwa," kata Budi, dikutip Kamis (1/10/2026).
Budi menjelaskan terdapat sejumlah manfaat dari menangis, salah satunya membantu tubuh mengelola stres. Air mata emosional yang keluar saat menangis disebut dapat membantu menurunkan kadar hormon kortisol atau hormon stres.
"Pertama, fungsinya sebagai detoks alami. Dengan kita mengeluarkan air mata, tubuh kita bisa menurunkan hormon kortisol. Ini adalah hormon stres. Kedua, hormon oksitosin dan hormon endorfin kita akan naik. Dan ini adalah hormon-hormon yang meredakan nyeri fisik maupun nyeri mental," ujarnya.
Selain membantu mengurangi hormon stres, menangis juga dapat meningkatkan hormon oksitosin dan endorfin. Kedua hormon tersebut berkaitan dengan peredaan rasa nyeri, baik secara fisik maupun mental.
Manfaat lainnya, menangis dapat membuat tubuh lebih rileks dan santai. Kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas saraf parasimpatik yang dapat muncul ketika seseorang menangis.
Karena itu, Budi mengingatkan masyarakat tidak perlu menganggap menangis sebagai tanda kelemahan. Menurut dia, menangis dapat menjadi salah satu cara alami untuk membantu mengurangi gejala overthinking.
"Jadi ingat ya, nangis itu bukan menandakan diri kita lemah. Justru ini adalah teknik alami bisa mengurangi gejala-gejala overthinking yang membuat kita memiliki masalah," kata Budi.
Editor: Dani M Dahwilani