Mengenal Anti PD-L1, Imunoterapi untuk Pengobatan Kanker Stadium Lanjut

Siska Permata Sari ยท Jumat, 26 Juli 2019 - 20:04 WIB
Mengenal Anti PD-L1, Imunoterapi untuk Pengobatan Kanker Stadium Lanjut

Konsultasi kesehatan. (Foto: Advantagecaredtc)

JAKARTA, iNews.id - Kanker merupakan penyakit kronis yang menjadi salah satu penyebab kematian jutaan penduduk di dunia. Tahun 2018 saja, ada 18,1 juta kasus baru kanker di dunia dengan angka kematian sebesar 9,6 juta.

Di Indonesia, kanker merupakan penyebab kematian kedua penyakit tidak menular. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi kanker di Indonesia mengalami peningkatan dari 1,4 per 1.000 penduduk di 2013 menjadi 1,8 per 1.000 penduduk pada 2018.

Namun seiring perkembangan teknologi, dunia medis pun mengalami kemajuan. Salah satunya adalah metode pengobatan atezolizumab, imunoterapi kanker anti PD-L1.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dr dr Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM, mengatakan, imunoterapi kanker ini merupakan suatu revolusi yang bisa memberikan harapan untuk pasien kanker, terutama yang stadium lanjut.

Dia menjelaskan, atezolizumab adalah pilihan terapi baru untuk membantu pasien hidup lebih lama dibandingkan kemoterapi.

"Profil keamanan atezolizumab yang baik memberikan kesempatan bagi pasien untuk menjalani kehidupan yang lebih berkualitas bersama keluarga dan orang-orang terdekat," kata Dr Ikhwan Rinaldi saat konferensi pers di Raffles Hotel Jakarta, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis 25 Juli 2019.

Cara kerja imunoterapi dengan atezolizumab ini, papar dia, adalah mengembalikan respons imunitas di dalam tubuh pasien untuk menyerang sel kanker. "Sistem imun tubuh ini berfungsi untuk mendeteksi dan menghancurkan sel-sel asing di dalam tubuh dengan mengerahkan sel T," kata Dr Ikhwan.

Namun, ada hal yang membuat sel T tidak dapat membunuh sel kanker yang sifatnya 'mengelabui'.

"Sel T ini diproduksi di sumsum tulang kita setiap hari dan dimatangkan di kelenjar getah bening. Sebenarnya, harusnya tidak ada sel kanker. Tapi bila ada satu sel kanker tumbuh, sel imun kita lah yang akan membunuhnya. Namun, ada yang membuat sel T tidak bisa membunuh sel kanker," ucap dia.

Penelitian membuktikan bahwa atezolizumab dapat meningkatkan kualitas dan harapan hidup pasien. "Obat ini memberikan rata-rata kesintasan (survival) hingga 13,8 bulan dan durasi respons yang panjang hingga 23,9 bulan pada pasien kanker paru NSCLC stadium lanjut yang tidak merespons pengobatan sebelumnya," katanya.

Selain kanker paru-paru, atezolizumab ini juga dapat memberikan durasi respons yang panjang hingga 21,7 bulan pada pasien kanker kandung kemih.

Walaupun demikian, sama halnya dengan pengobatan imunoterapi kanker, atezolizumab juga memiliki efek samping. Namun, efeknya lebih rendah karena atezolizumab menargetkan PD-L1 yang menjadi penghambat sel T mengenali dan membunuh sel-sel asing pada tubuh, termasuk sel kanker.

"Jadi, ini memberikan hasil yang baik dan memberikan harapan hidup bagi pasien-pasien kanker yang sudah stadium lanjut," kata dia.

Saat ini, atezolizumab juga telah disetujui oleh BPOM untuk pasien kanker paru bukan sel kecil dan kanker kandung kemih stadium lanjut yang telah mendapatkan kemoterapi berbasis platinum.

"Menurut saya, dengan adanya atezolizumab ini dengan efek minimal, maka saya rasa ini suatu yang menjanjikan bagi pasien kanker stadium lanjut. Kami tak kalah dalam hal pengetahuan untuk menerapkan pengobatan ini di Indonesia. Di Indonesia obatnya sudah ada, pakarnya sudah ada. Memang masalahnya adalah harga yang menjadi tugas bersama bagi Kementerian, Badan POM, dan JKN," katanya.

Editor : Tuty Ocktaviany