Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Apa Itu Plak Jantung? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya Sejak Dini
Advertisement . Scroll to see content

Mengenal Teknologi LVAD, Alat Pompa Jantung yang Bantu Pasien Hidup Lebih Lama

Kamis, 06 Agustus 2026 - 15:38:00 WIB
Mengenal Teknologi LVAD, Alat Pompa Jantung yang Bantu Pasien Hidup Lebih Lama
Ilustrasi pemeriksaan jantung. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Perkembangan teknologi medis terus menghadirkan harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut. Salah satu inovasi yang kini mulai tersedia di Indonesia adalah Left Ventricular Assist Device (LVAD), alat pompa mekanis yang membantu kerja jantung memompa darah ke seluruh tubuh.

Teknologi ini dinilai menjadi solusi bagi pasien yang mengalami gagal jantung berat, terutama di tengah krisis donor jantung yang masih menjadi tantangan besar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dokter Spesialis Bedah Jantung RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr M Azra Putra, menjelaskan bahwa LVAD merupakan alat yang dipasang untuk membantu fungsi bilik kiri jantung (left ventricle), yakni ruang jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh.

"Dengan LVAD, dulunya dia menjadi bridging (jembatan) antara orang yang sudah sakit parah, gagal jantung terminal, sambil menunggu donasi jantung. Tapi sekarang karena donor sudah sangat jarang, beberapa center menganggap ini sebagai destination. Jadi ujungnya memang pasien harus hidup selamanya dengan LVAD," ujar dr Azra saat diwawancarai, beberapa hari lalu.

Menurut dia, perkembangan fungsi LVAD menunjukkan perubahan besar dalam tatalaksana gagal jantung stadium lanjut. Jika sebelumnya alat tersebut hanya digunakan sebagai jembatan menuju transplantasi jantung, kini LVAD telah menjadi terapi jangka panjang atau destination therapy bagi banyak pasien karena semakin langkanya donor organ.

Kondisi tersebut terjadi akibat transplantasi jantung memiliki keterbatasan yang sangat besar. Berbeda dengan ginjal atau hati yang masih memungkinkan didonorkan sebagian, transplantasi jantung hanya dapat dilakukan dari pendonor yang telah mengalami kematian batang otak dan memiliki kecocokan dengan penerima.

Akibat minimnya donor, angka kesintasan pasien gagal jantung stadium lanjut masih tergolong rendah. dr. Azra menyebut tingkat bertahan hidup pasien gagal jantung dalam satu tahun hanya berkisar 15 hingga 30 persen secara global.

Siapa yang Membutuhkan LVAD?

LVAD diperuntukkan bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut (advanced heart failure) yang fungsi pompa jantungnya sudah sangat menurun.

Menurut dr. Azra, salah satu indikator utama adalah nilai ejection fraction atau fraksi ejeksi di bawah 25 persen. Sebagai perbandingan, fungsi pompa jantung orang sehat umumnya berada pada kisaran 60 hingga 70 persen.

Pasien dengan kondisi tersebut umumnya sudah tidak lagi membaik hanya dengan terapi obat-obatan ataupun alat pacu jantung. Mereka juga sering mengalami sesak napas dan harus berulang kali menjalani perawatan di rumah sakit.

"Pasien itu biasanya akan keluar masuk rumah sakit. Minum banyak sedikit, sesak napas. Minum banyak dikit, bolak-balik ke rumah sakit. Dia mungkin dalam setahun ada 12 kali yang hampir tiap bulan keluar masuk rumah sakit, dirawat. Nah, sampai nanti kondisi jantungnya benar-benar parah, enggak bisa keluar dari rumah sakit dan harus dipasang bantuan alat-alat yang enggak bisa dibawa pulang," jelasnya.

Dengan bantuan LVAD, aliran darah ke seluruh tubuh dapat kembali optimal sehingga pasien memiliki peluang hidup lebih lama sekaligus memperoleh kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan terapi medis konvensional.

Pasien Tetap Bisa Beraktivitas

Salah satu keunggulan LVAD adalah daya tahannya yang cukup lama. Teknologi ini dirancang sebagai perangkat mekanis jangka panjang sehingga pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, alat ini masih memiliki keterbatasan dari sisi kepraktisan. Pengguna harus membawa baterai eksternal yang terhubung melalui kabel dari area dada untuk menjaga pompa tetap bekerja.

Direktur Utama RSCM, Dr. dr. Supriyanto Dharmoredjo, mengatakan LVAD bekerja layaknya pompa yang menggantikan fungsi bilik kiri jantung dalam mengalirkan darah menuju aorta dan seluruh tubuh.

"Alat ini semacam pompa air, jadi di bilik kiri mompanya ke aorta, ke seluruh tubuh, itu digantikan oleh alat ini. Dengan begitu, kita enggak perlu lagi transplan jantung dan umur pakai alat ini bisa lebih dari sembilan tahun," ujar dr Supriyanto.

Ia berharap kehadiran teknologi tersebut dapat memperkuat layanan kardiovaskular berteknologi tinggi di Indonesia sekaligus menjadi sarana pelatihan bagi dokter bedah jantung dari berbagai daerah.

Perkembangan teknologi LVAD diperkirakan tidak berhenti sebagai alat bantu permanen. Pendiri dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSPAN.ai, Dr. Wai Siang Yu, mengungkapkan bahwa saat ini tengah dikembangkan konsep bridge to recovery.

Melalui pendekatan tersebut, LVAD dipadukan dengan teknologi regeneratif seperti sel punca (stem cell) untuk membantu jantung memulihkan fungsinya secara bertahap.

"Jadi, perkembangannya dimulai dari bridge therapy, lalu menjadi destination therapy, dan kini berkembang lagi menjadi bridge to recovery di mana jantung terpicu untuk membentuk selnya sendiri," kata dr Wai Siang Yu. 

"Jantung dapat memanggil kembali ingatan ototnya (muscle memory) dan membentuk sel-sel jantung baru di dalam tubuh, sehingga alat tersebut nantinya bisa dilepas. Jadi, ini adalah sebuah terobosan (breakthrough)," tambahnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut